Tinjauan Sederhana Persekolahan Indonesia
Dalam kurikulum sejarah di SMP, ada bab tentang peradaban di lembah sungai Indus, atau lebih dikenal dengan sebutan Peradaban Mohenjodaro dan Harappa. Namun ada sisi menarik seperti halnya bab pertama tentang asal-usul manusia, sebuah materi evolusionis yang telah runtuh di tangan ilmuwan Harun yahya. Materi tentang peradaban Mohenjodaro dan Harappa juga tak lepas dari kontroversi ilmiah. Adanya teori Aryan Invasion di dalam materi tersebut, banyak dibantah oleh penemuan mutakhir, berikut penjelasannya.
Menurut Sir John Marshall, kerangka manusia yang ditemukan di Harappa dengan umur 4000 tahun yang lalu menunjukan persamaan dasar dengan ras-ras yang ada di Punjab dan Gujarat dewasa ini. hal ini membuktikan bahwa tidak pernah ada penyerangan suku bangsa luar atau lebih dikenal dengan Aryan Invansion Theory yang kemudian menguasai wilayah tersebut.
Sekitar tahun 1853 Max Muller memperkenalkan Aryan Invansion Theory hanya demi kepentingan politik semata agar bangsa Inggris dapat memecah belah Bangsa India agar mudah diperbudak. lebih lanjut lagi, ditemukannya fosil-fosil kuda pada lapisan situs itu. ini menunjukan bahwa masyarakat pada masa itu telah mengenal kuda. Kuda merupakan hewan yang paling banyak di sebutkan dalam Reg Weda dan merupakan hewan penting dalam kebudayaan Weda yang disebut dengan Aswameda Yajna. Menurut Wheeler, agama yang dianut di daerah tersebut merupakan agama Siwa berdasarkan penelitian yang dilakukan. namun pada dasarnya, dalam konteks teologi Hindu, Weda dan Siwa merupakan satu kesatuan, dimana dalam weda, Siwa merupakan manifestasi Tuhan sebagai pelebur alam semesta. Hal ini di karenakan para peneliti memiliki wawasan yang kurang mengenai “Siwa” dan “Weda”. Jadi tidaklah benar bahwa Peradaban di daerah tersebut sebelum adanya perkembangan Weda, namun memang para ahli mengatakan bahwa Weda mulai “dibukukan” atau dibuat dalam bentuk tulisan kedalam lontar pada 1500 sebelum masehi oleh para Rsi atau pemuka ajaran Weda karena mereka mampu memprediksi bahwa kekuatan ingatan manusia pada masa mendatang akan mengalami penurunan. atrinya disini bahwa peradaban pada masa itu, orang-orang selain memiliki kecerdasan yang tinggi juga memiliki kekuatan dan daya ingat yang tinggi.
Ternyata, tidak semua hal yang berasal dari dunia pendidikan itu mampu membuat kita menjadi humanis. Mungkin dengan alasan yang dikemukakan para ahli pendidikan, anak usia sekolah antara SMP ke SMA belum mampu melakukan sintesa pemikiran ataupun melakukan abstraksi yang sudah mapan layaknya kakaknya yang ada di perguruan tinggi, namun menjadi tidak argumentatif jika sekiranya, hal tersebut menjadikan alasan untuk dicekokinya pemikiran mereka dengan teori usang hasil propaganda penjajah.
Dunia pendidikan adalah gerbang mereka menuju ke kehidupan bermasyarakat, jika sekiranya materi di pendidikan dijauhkan dari realitas sebenarnya dari kehidupan, maka mereka akan menjadi manusia yang ignoran terhadap kondisi masyarakat yang ada.
Contohnya bisa kita ambil dalam Mata Pelajaran Bahasa Inggris sub Materi Listening. Biasanya para siswa akan diajak ke Lab Bahasa, earphone dipasang, dan terdengar disana dua atau tiga orang bercakap-cakap dalam Bahasa Inggris dengan ragam kosakata kebahasaan dan macam situasi dan wacana yang menyertainya, misal di pasar, maka percakapan yang terjadi pun menceritakan pasar dan biasanya “role play” yang bermain pun antara penjual dan pembeli. Suasana di Laboratorium itu sunyi, karena memang disetting seperti itu. Tapi coba anda ke pasar dan dengarkan dengan seksama percakapan antara dua orang dengan baik. Kondisi pasar yang ramai sangat jauh berbeda dengan kondisi Laboratorium Bahasa yang sunyi itu. Maka realitas keilmuan yang kita miliki di sekolah akan dibenturkan dengan nilai-nilai aktual yang ada di dunia nyata, maka hasilnya kita akan belajar kembali, bahkan mungkin dari nol.
Hal ini terjadi pula dalam Mata Pelajaran Agama Islam. Adalah hafalan yang selalu dijadikan patokan utama nilai raport, maka jelas terlihat ketika hanya berbekal hafal dan mampu menyelesaikan ujian dengan baik, hasilnya Departemen Agama menjadi departemen terkorup di Indonesia. Korupsi memang haram dalam teks kitab suci, tapi sekedar hafal, bukan makna harfiah yang terkandung bahwa itu harus dilaksanakan dengan anggota badan.
Seperti banyak dikritik oleh YB Mangunwijaya, Andreas Harefa, maupun Arif Rahman , dari negeri asing juga ikut-ikutan mengkritik, seperti Ivan Illich dan Paulo Freire, model pendidikan di Indonesia ini disebut yang terakhir sebagai model edukasi gaya banking. Sebuah model edukasi yang menitikberatkan pada kemampuan aplikatif hitam putih, skor merah hitam di raport yang terkadang begitu didewakan. Dan inilah targetan utamanya, Ujian Nasional. Fuh…apalagi ini.
Banyak yang harus dibenahi, bukan hanya Penyediaan Laptop bagi para guru dan men”jardiknas”kan seluruh sekolah di Indonesia, tapi esensi Pendidikan secara fundamental harus dirubah, bukan hanya kognitif, afektif dan psikomotor saja, namun kerangka aplikasi yang jelas dan mampu menyentuh nilai-nilai moral yang dianut masyarakat yang harus segera dilaksanakan.
Wallahua’lam.
Ditulis oleh: Duljani alumni 2001
DIarsipkan di bawah: Pendidikan












Nice site ^_^
)|(