Kala Pena Setajam Pedang

Kala Pena Setajam Pedang


Kiprah penulis muslim makin bergelora. Saatnya bikin sesuatu yang beda dan bernilai dakwah. Karena menulis buat seorang muslim adalah ladang dakwah dan ibadah. Yang namanya pendekar, biasanya punya senjata sakti. Wiro Sableng punya kapak maut Naga Geni 212, Thio Bu Khie di cersil To Liong To-nya Chin Yun punya Pedang Langit & Golok Pembunuh Naga, King Arthur punya Excalibur. Semua sakti mandraguna bisa menghabisi lawan-lawannya.
Tapi, kesaktian senjata itu paling banter cuma bisa ngebunuh puluhan atau ratusan orang. Sementara, goresan pena seorang penulis bisa mengguncangkan jutaan orang. Bahkan lebih. Maka, pena itu emang setajam pedang, atau malah lebih tajam lagi. Begitu tajamnya, sampai-sampai Kaisar Prancis yang masyhur, Napoleon Bonaparte lebih ngeri pada pena para penulis ketimbang ribuan bayonet musuh yang terhunus.
Kesaktian para penulis
Sobat, kita bukannya lagi ngebual. Ini fakta. Ambillah contoh, kalangan Kristiani akhir-akhir ini lagi resah setelah terbitnya sebuah novel berjudul The Da Vinci Code. Tulisan fiksi garapan penulis muda Dan Brown ini ditakutkan mengguncangkan ?keimanan? kalangan umat Kristiani. Pasalnya, dalam buku fiksi itu Dan Brown menuliskan kalau sebenarnya Yesus Kristus berstatus menikah dengan seorang wanita yang bernama Maria Magdalena. Mereka, tulis Brown, juga punya keturunan yang sampai sekarang tinggal di satu kawasan di Prancis.
Tulisan ini jelas bikin geger. Pasalnya kalangan Kristen percaya betul Yesus itu tidak pernah menikah. Dan lagi, kalau kamu tahu, dalam sejarah Kristen, Maria Magdalena itu adalah seorang pelacur. Jelas aja banyak pastor yang tersinggung. Tapi ada daya, buku itu malah jadi best seller di AS dan Eropa.
Sekarang kita flashback, liat ke masa lampau. Tepatnya di tahun 1896 keluar sebuah buku berbahasa Jerman dengan titel Der Judenstaat. Pengarangnya adalah Theodore Hertzl. Buku inilah yang jadi inspirasi jutaan orang Yahudi di dunia untuk bikin sebuah negara rasis; Yahudi Raya, atau kita kenal dengan Israel. Bayangin, sebuah buku bisa melahirkan revolusi sekaligus sebuah negara.
Wah, masih banyak karya-karya para penulis yang spektakuler; positif ataupun negatif. Goresan pena mereka, atau ketikan mereka, bisa membangkitkan emosi masyarakat. Bahkan ada yang bisa melahirkan sebuah pergolakan sosial dan politik seperti Dar Judenstaat-nya Herzl dan Das Kapital-nya Karl Marx.
Dakwah lewat pena
Tapi, kita juga patut bersyukur kemudian banyak lahir para penulis muslim. Dari luar negeri, siapa sih yang luput baca bukunya asy-Syahid Sayyid Quthb yang beken dengan Ma?alim fi ath Thariq dan tafsir Fi Dzilaalil Qur?an. Buku tafsir yang dibuat dalam penjara rezim Mesir ini dinilai banyak ulama sarat dengan muatan dakwah dan perlawanan terhadap kezaliman kaum imperialis dan antek-anteknya.
Di dalam negeri? remaja muslim juga ngeh banget dengan nama Helvi Tiana Rossa, Pipiet Senja, Gola Gong, Boim Lebon, Afifah Afra Amatullah, Adian Husani, Faudzil Adhim, Oleh Solihin, dsb. Nama-nama itu udah jadi ikon penulis muslim. Tulisan mereka, insya Allah, nggak sekadar menghibur, tapi juga berisi muatan dakwah. Ajakan untuk meniti jalan menuju kehidupan yang Islami.
Lagipula, dakwah lewat tulisan ini punya beberapa keunggulan dibandingkan via lisan. Dengan tulisan pastinya materi dakwah akan terdokumentasikan dengan baik. Biarpun ada tape recorder, atau rekaman video, tetep aja nggak bisa mengalahkan asyiknya menelusuri ide dakwah lewat tulisan. Membaca emang kagak ada matinya!
Buat pembaca sendiri ada keuntungan lain. Mereka bisa menyimak dakwah itu kapan saja dan dimana saja. Bisa sambil santai, tiduran di bawah pohon kelapa, awas aja ketiban buahnya. Pokoknya, enak dinikmati sambil apa aja.
Selain itu, dakwah lewat tulisan bisa jauh lebih mendalam. Karena penulisnya bisa mengeksplor berbagai buku-buku rujukan. Penulisnya bisa berpikir panjang sebelum menuangkan gagasan. Beda kan dengan dakwah secara lisan, apalagi yang modelnya live show, seorang da?i dituntut bisa berpikir cepat dan tepat. Jelas ini berat karena nggak semua da?i bisa melakukan hal itu.
Ada tanggung jawab
Karenanya, jadi penulis jangan lagi diliat sebagai hobi. Iseng ngisi waktu luang. But, nulis itu udah jadi bagian dari perjuangan umat. Tulisan-tulisan mereka bertaburan muatan dakwah menuju kehidupan Islam. Ide-ide mereka nggak cuma ngasih penjelasan tentang Islam, tapi juga bisa mukul balik aneka gagasan gila alias yang membahayakan umat Islam.
So, jadi penulis muslim, nggak cuma dituntut kreatif, tapi juga bertanggung jawab atas karya yang mereka buat. Penulis muslim itu kudu bisa menulis dengan benar dan baik. Benar, artinya menuliskan hal-hal yang islami, nggak bikin pembaca jadi bodo apalagi ?gila?, seperti mencaci maki Al Qur?an, para sahabat, dan agama Islam pada umumnya.
Yang dimaksud ?baik? adalah bisa nulis dengan kreatif. Maksudnya bukan kudu nulis sambil nyelam di air, sambil nungging, sambil merem, atau gimana gitu. Tapi bisa bikin tulisan yang memikat, enak dibaca dan perlu (afwan, TEMPO!).
Nah, modal jadi penulis itu emang gampang-gampang susah. Gampang karena setiap orang pastinya bisa nulis. Susahnya, dia kudu punya teknik menulis yang oke banget, dan pastinya nguasai tsaqofah islamiyah (pengetahuan keislaman).
Insya Allah, tanah air bakal terus kebanjiran penulis muslim yang berbakat. Semoga talenta mereka betul-betul bermanfaat untuk kebangkitan Islam. Kita menunggu perubahan masyarakat agar agama ini tegak di atas muka bumi. Kalau Rusia bisa berevolusi dengan Das Kapital-nya Karl Marx, atau kaum Yahudi bisa mendirikan negara Yahudi Raya lewat Dar Judenstaat, umat Islam pasti juga bisa. Nah, semoga para penulis muslim bisa mewujudkannya.

oleh: Tuti AN

alumni 2001

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan