Sekolah kita

Tinjauan Sederhana Persekolahan Indonesia

Dalam kurikulum sejarah di SMP, ada bab tentang peradaban di lembah sungai Indus, atau lebih dikenal dengan sebutan Peradaban Mohenjodaro dan Harappa. Namun ada sisi menarik seperti halnya bab pertama tentang asal-usul manusia, sebuah materi evolusionis yang telah runtuh di tangan ilmuwan Harun yahya. Materi tentang peradaban Mohenjodaro dan Harappa juga tak lepas dari kontroversi ilmiah. Adanya teori Aryan Invasion di dalam materi tersebut, banyak dibantah oleh penemuan mutakhir, berikut penjelasannya.
Menurut Sir John Marshall, kerangka manusia yang ditemukan di Harappa dengan umur 4000 tahun yang lalu menunjukan persamaan dasar dengan ras-ras yang ada di Punjab dan Gujarat dewasa ini. hal ini membuktikan bahwa tidak pernah ada penyerangan suku bangsa luar atau lebih dikenal dengan Aryan Invansion Theory yang kemudian menguasai wilayah tersebut.
Sekitar tahun 1853 Max Muller memperkenalkan Aryan Invansion Theory hanya demi kepentingan politik semata agar bangsa Inggris dapat memecah belah Bangsa India agar mudah diperbudak. lebih lanjut lagi, ditemukannya fosil-fosil kuda pada lapisan situs itu. ini menunjukan bahwa masyarakat pada masa itu telah mengenal kuda. Kuda merupakan hewan yang paling banyak di sebutkan dalam Reg Weda dan merupakan hewan penting dalam kebudayaan Weda yang disebut dengan Aswameda Yajna. Menurut Wheeler, agama yang dianut di daerah tersebut merupakan agama Siwa berdasarkan penelitian yang dilakukan. namun pada dasarnya, dalam konteks teologi Hindu, Weda dan Siwa merupakan satu kesatuan, dimana dalam weda, Siwa merupakan manifestasi Tuhan sebagai pelebur alam semesta. Hal ini di karenakan para peneliti memiliki wawasan yang kurang mengenai “Siwa” dan “Weda”. Jadi tidaklah benar bahwa Peradaban di daerah tersebut sebelum adanya perkembangan Weda, namun memang para ahli mengatakan bahwa Weda mulai “dibukukan” atau dibuat dalam bentuk tulisan kedalam lontar pada 1500 sebelum masehi oleh para Rsi atau pemuka ajaran Weda karena mereka mampu memprediksi bahwa kekuatan ingatan manusia pada masa mendatang akan mengalami penurunan. atrinya disini bahwa peradaban pada masa itu, orang-orang selain memiliki kecerdasan yang tinggi juga memiliki kekuatan dan daya ingat yang tinggi.
Ternyata, tidak semua hal yang berasal dari dunia pendidikan itu mampu membuat kita menjadi humanis. Mungkin dengan alasan yang dikemukakan para ahli pendidikan, anak usia sekolah antara SMP ke SMA belum mampu melakukan sintesa pemikiran ataupun melakukan abstraksi yang sudah mapan layaknya kakaknya yang ada di perguruan tinggi, namun menjadi tidak argumentatif jika sekiranya, hal tersebut menjadikan alasan untuk dicekokinya pemikiran mereka dengan teori usang hasil propaganda penjajah.
Dunia pendidikan adalah gerbang mereka menuju ke kehidupan bermasyarakat, jika sekiranya materi di pendidikan dijauhkan dari realitas sebenarnya dari kehidupan, maka mereka akan menjadi manusia yang ignoran terhadap kondisi masyarakat yang ada.
Contohnya bisa kita ambil dalam Mata Pelajaran Bahasa Inggris sub Materi Listening. Biasanya para siswa akan diajak ke Lab Bahasa, earphone dipasang, dan terdengar disana dua atau tiga orang bercakap-cakap dalam Bahasa Inggris dengan ragam kosakata kebahasaan dan macam situasi dan wacana yang menyertainya, misal di pasar, maka percakapan yang terjadi pun menceritakan pasar dan biasanya “role play” yang bermain pun antara penjual dan pembeli. Suasana di Laboratorium itu sunyi, karena memang disetting seperti itu. Tapi coba anda ke pasar dan dengarkan dengan seksama percakapan antara dua orang dengan baik. Kondisi pasar yang ramai sangat jauh berbeda dengan kondisi Laboratorium Bahasa yang sunyi itu. Maka realitas keilmuan yang kita miliki di sekolah akan dibenturkan dengan nilai-nilai aktual yang ada di dunia nyata, maka hasilnya kita akan belajar kembali, bahkan mungkin dari nol.
Hal ini terjadi pula dalam Mata Pelajaran Agama Islam. Adalah hafalan yang selalu dijadikan patokan utama nilai raport, maka jelas terlihat ketika hanya berbekal hafal dan mampu menyelesaikan ujian dengan baik, hasilnya Departemen Agama menjadi departemen terkorup di Indonesia. Korupsi memang haram dalam teks kitab suci, tapi sekedar hafal, bukan makna harfiah yang terkandung bahwa itu harus dilaksanakan dengan anggota badan.
Seperti banyak dikritik oleh YB Mangunwijaya, Andreas Harefa, maupun Arif Rahman , dari negeri asing juga ikut-ikutan mengkritik, seperti Ivan Illich dan Paulo Freire, model pendidikan di Indonesia ini disebut yang terakhir sebagai model edukasi gaya banking. Sebuah model edukasi yang menitikberatkan pada kemampuan aplikatif hitam putih, skor merah hitam di raport yang terkadang begitu didewakan. Dan inilah targetan utamanya, Ujian Nasional. Fuh…apalagi ini.
Banyak yang harus dibenahi, bukan hanya Penyediaan Laptop bagi para guru dan men”jardiknas”kan seluruh sekolah di Indonesia, tapi esensi Pendidikan secara fundamental harus dirubah, bukan hanya kognitif, afektif dan psikomotor saja, namun kerangka aplikasi yang jelas dan mampu menyentuh nilai-nilai moral yang dianut masyarakat yang harus segera dilaksanakan.
Wallahua’lam.

Ditulis oleh: Duljani alumni 2001

Profil seorang muslim

PROFIL PRIBADI MUSLIM

Al-Qur’an dan Sunnah merupakan dua pusaka Rasulullah (SAW) yang harus selalu dirujuk oleh
setiap muslim di dalam segala aspek kehidupan. Salah satu daripada aspek-aspek kehidupan yang
penting ialah pembentukan dan pengembangan peribadi muslim. Peribadi muslim yang
dikehendaki Al-Qur’an dan Sunnah adalah peribadi yang soleh. Peribadi muslim merangkumi
sikap, ucapan dan tindakan berlandaskan oleh nilai-nilai yang datang dari Allah (SWT).
Persepsi atau gambaran masyarakat tentang peribadi muslim memang berbeza-beza. Bahkan
banyak yang pemahamannya terlalu sempit sehingga seolah-olah peribadi muslim itu tercermin
pada orang yang hanya rajin menjalankan Islam dari aspek ubudiyah atau ibadah yang khusus
seperti solat, puasa, zakat dan haji. Padahal itu hanyalah satu aspek saja dan masih banyak aspekaspek
lain yang harus dihayati dan dimiliki oleh peribadi seorang muslim. Oleh itu, satu piawai
peribadi muslim yang berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah merupakan sesuatu yang harus
dirumuskan, sehingga dapat menjadi acuan bagi pembentukan peribadi muslim.
Bila disederhanakan, setidaknya ada sepuluh sifat atau ciri khas yang mesti ada pada peribadi
muslim.
[1]. Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih)
Salimul aqidah merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang
bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah (SWT). Dengan ikatan yang
kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kebersihan
dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah
sebagaimana firman-Nya yang bermaksud: “Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku dan
matiku, semua bagi Allah tuhan semesta alam” (Al-an’aam:162). Karana aqidah yang salim
merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam awal da’wahnya kepada para sahabat di
Mekkah, Rasulullah (SAW) mengutamakan pembinaan aqidah, iman dan tauhid.
[2]. Shahihul Ibadah (Ibadah yang benar)
Apabila disebut ibadah di dalam Islam, ia tidak hanya tertumpu kepada ibadah khusus seperti
ibadat solat, puasa, zakat dan haji. Malah, ibadah di dalam Islam merangkumi segala urusan
hidup kerana ia bersesuaian dengan firman Allah (SWT) yang bermaksud: “Aku tidak
menjadikan jin dan manusia kecuali mereka beribadat kepadaKu (Az-Zariyat: 56). Adalah
menjadi kewajipan kita membetulkan niat yang ikhlas di dalam menjalankan setiap amalan harian
kita agar menepati firman Allah (SWT) tersebut dan memastikan amalan-amalan tersebut tidak
bertentangan dengan ajaran Rasulullah (SAW).
Shahihul ibadah merupakan salah satu perintah Rasulullah (SAW) yang penting. Dalam satu
hadisnya, beliau bersabda yang bermaksud: “Solatlah kamu sebagaimana melihat aku solat”. Dari
ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahawa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah
merujuk kepada sunnah Rasulullah (SAW) yang bererti tidak boleh ada unsur penambahan atau
pengurangan.
[3]. Matinul Khuluq (Akhlak yang kukuh)
Matinul khuluq merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam
hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia,
manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia dan di akhirat. Karana begitu penting
memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah (SAW) diutus untuk
memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung
sehingga diabadikan oleh Allah (SWT) di dalam Al Qur’an. Allah berfirman yang bermaksud:
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung” (Al-Qalam: 4).
[4]. Qowiyyul Jismi (Kekuatan jasmani)
Qowiyyul jismi merupakan salah satu sisi peribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani
bererti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam
secara optimal dengan fizikalnya yang kuat. Solat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di
dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fizikal yang sihat dan kuat. Apalagi berjihad di
jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan yang lainnya.
Oleh kerana itu, kesihatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan
dari penyakit jauh lebih utama daripada pengubatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap
sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi. Namun jangan sampai seorang
muslim bersakit-sakitan. Kerana kekuatan jasmani juga termasuk hal yang penting, maka
Rasulullah (SAW) bersabda yang bermaksud: “Mukmin yang kuat lebih aku cintai daripada
mukmin yang lemah (HR. Muslim)
[5]. Mutsaqqoful Fikri (intelek dalam berfikir)
Mutsaqqoful fikri merupakan salah satu sisi peribadi muslim yang juga penting. Kerana itu salah
satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas). Al Qur’an juga banyak mengungkap ayat-ayat yang
merangsang manusia untuk berfikir, misalnya firman Allah yang bermaksud: “Mereka bertanya
kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: ” pada keduanya itu terdapat dosa besar dan
beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka
bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”.
Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir” (Al-Baqarah:
219)
Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai
dengan aktiviti berfikir. Kerananya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan
keilmuan yang luas. Bayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatkan
pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu.
Oleh kerana itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektual seseorang,
sebagaimana firman Allah yang bermaksud: Katakanlah: “samakah orang yang mengetahui
dengan orang yang tidak mengetahui?”‘, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat
menerima pelajaran”. (Az-Zumar: 9)
[6]. Mujahadatul Linafsihi (Berjuang melawan hawa nafsu)
Mujahadatul linafsihi merupakan salah satu keperibadian yang harus ada pada diri seorang
muslim kerana setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk.
Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut
adanya kesungguhan. Kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan
hawa nafsu. Hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran
Islam. Rasulullah (SAW) bersabda yang bermaksud: “Tidak beriman seseorang dari kamu
sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam)” (HR.
Hakim)
[7]. Harishun Ala Waqtihi (Pandai menjaga masa)
Harishun ala waqtihi merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini kerana waktu mendapat
perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah (SWT) banyak bersumpah di dalam
Al Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan
seterusnya.
Allah (SWT) memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama, yakni 24 jam sehari
semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang
rugi. Kerana itu tepatlah sebuah peribahasa yang menyatakan: “Lebih baik kehilangan jam
daripada kehilangan waktu”. Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah
kembali lagi.
Oleh kerana itu setiap muslim amat dituntut untuk pandai mengelola waktunya dengan baik
sehingga waktu berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara
yang ditegur oleh Nabi (SAW) adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang
lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sihat sebelum datang sakit, muda sebelum tua,
lapang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin. Hadis tersebut diriwayatkan Imam Hakim dalam
kitab al-Mustadrak.
[8]. Munazhzhamun fi Syuunihi (Bersistematik dalam menjalankan sesuatu urusan)
Munazhzhaman fi syuunihi termasuk keperibadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al
Qur’an maupun Sunnah. Oleh kerana itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah
ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu
urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga
Allah menjadi cinta kepadanya.
Dengan kata lain, suatu urusan mesti dikerjakan secara profesional. Apapun yang dikerjakan,
profesionalisme selalu diperhatikan. Bersungguh-sungguh, bersemangat, berkorban,
berkelanjutan dan berdasarkan ilmu pengetahuan merupakan hal-hal yang mesti mendapat
perhatian serius dalam penunaian tugas-tugas yang diamanahkan.
[9]. Qodirun Alal Kasbi (Memiliki kemampuan usaha sendiri/mandiri)
Qodirun alal kasbi merupakan ciri lain yang harus ada pada diri seorang muslim. Ini merupakan
sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru
boleh dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian terutama dari segi ekonomi. Tak
sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya kerana tidak memiliki kemandirian
dari segi ekonomi.
Kerana peribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya bahkan memang
harus kaya agar dia boleh menunaikan ibadah haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah dan
mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh kerana itu perintah mencari nafkah amat banyak di
dalam Al Qur’an maupun hadis dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi.
Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian
apa saja yang baik. Keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizeki daripada Allah
(SWT). Rezeki yang telah Allah sediakan harus diambil dan untuk mengambilnya diperlukan
kepakaran atau ketrampilan.
[10]. Nafi’un Lighoirihi (Bermanfaat kepada orang lain)
Nafi’un lighoirihi merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud
tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan
keberadaannya. Jangan sampai keberadaan seorang muslim tidak menggenapkan dan
ketiadaannya tidak mengganjilkan.
Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berfikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya
semaksima mungkin untuk bermanfaat dan berperanan dengan baik dalam masyarakatnya. Di
dalam hal ini, Rasulullah (SAW) bersabda yang bermaksud: “Sebaik-baik manusia adalah yang
paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Qudhy dari Jabir). Demikian secara umum profil seorang
muslim yang disebutkan dalam Al Qur’an dan sunnah. Sesuatu yang perlu kita hayati dan
amalkan pada diri kita masing-masing
PROFIL PERIBADI MUSLIM
1. Salimul Aqidah (Aqidah Yang Bersih)
2. Sahihul Ibadah (Ibadah Yang Benar)
3. Matinul Khuluq (Akhlak Yang Kukuh)
4. Qowiyyul Jismi (Kekuatan Jasmani)
5. Mutsaqqoful Fikri (Intelek Dalam Berfikir)
6. Mujahadatul Linafsihi (Berjuang Melawan Hawa Nafsu)
7. Harishun Ala Waqtihi (Pandai Menjaga Masa)
8. Munazhzhamun Fi Syuunihi (Teratur Dalam Sesuatu Urusan)
9. Qadirun Alal Kasbi (Memiliki Kemampuan Usaha Sendiri)
10.Nafi un Liqoirihi (Bermanfaat Kepada Orang Lain)

Posting oleh: Duljani alumni 2001
Disarikan dari:
Profil Pribadi Muslim _____________________________________________________
(Mustafa Masyhur, Jalan Dakwah, Pustaka Salam Kuala Lumpur, 1985, halaman 27- 28 dan 137-150)
http://www.imaamnet.org/modules.php?name=Sections&op=viewarticle&artid=41
Kompilasi dari http://abu-luqman.tripod.com

Gie

KENANGAN KEPADA SEORANG DEMONSTRAN
SOE HOK GIE

Enam belas Desember 30 tahun lalu, Soe Hok Gie, tokoh mahasiswa dan pemuda, meninggal dunia di puncak G. Semeru, bersama Idhan Dhanvantari Lubis. Sosok dan sikapnya sebagai pemikir, penulis, juga aktivis yang berani, coba ditampilkan Rudy Badil, yang mewakili rekan lainnya, Aristides (Tides) Katoppo, Wiwiek A. Wiyana, A. Rachman (Maman), Herman O. Lantang dan almarhum Freddy Lasut.
“Siap-siap kalau mau ikut naik lagi ke Gunung Semeru. Kasih kabar secepatnya, sebab harus ada persiapan di musim penghujan Desember, juga pertengahan Desember itu bulan puasa Ramadhan,” kata Herman O. Lantang, mantan pimpinan pendakian Musibah Semeru 1969, yang masih amat bugar di umurnya yang sudah lewat 57 tahun.
Terkejut dan tersentuh juga saya saat mendengar ajakan Herman itu. Dia merencanakan membentuk tim kecil untuk mendaki puncak Semeru lagi Desember ini, sambil memperingati 30 tahun meninggalnya dua sobat lama kami, Soe Hok Gie dan Idhan Lubis. “Kita juga akan berdoa, sekalian mengenang Freddy Lasut yang meninggal beberapa bulan lalu,” lanjutnya.
Soe meninggal dunia saat baru berumur 27 tahun kurang sehari. Idhan malah baru 20 tahun. “Tanpa terasa Soe sudah tiga dasawarsa meninggalkan kita sejak Orde Baru … perkembangan yang terjadi di Tanah Air dalam dua tahun terakhir ini, khususnya gerakan mahasiswa yang telah menggulingkan pemerintahan Orde Baru, mengingatkan kita kembali pada situasi tahun 1960-an, ketika Soe masih menjadi aktivis mahasiswa kala itu,” begitu bunyi naskah buku kecil acara “Mengenang Seorang Demonstran”, (berisikan antara lain diskusi panel soal bangsa dan negara Indonesia ini), yang bakal diselenggarakan Iluni FSUI dan Alumni Mapala UI.
Kasih batu dan cemara
Dari beberapa catatan kecil serta dokumentasi yang ada, termasuk buku harian Soe yang sudah diterbitkan, Catatan Seorang Demonstran (CSD) (LP3ES, 1983), di benak saya mulai tergali suasana sore hari bergerimis hujan dan kabut tebal, tanggal 16 Desember 1969 di G. Semeru.
Seusai berdoa dan menyaksikan letupan Kawah Jonggringseloko di Puncak Mahameru (puncaknya G. Semeru) serta semburan uap hitam yang mengembus membentuk tiang awan, bersama Maman saya terseok-seok gontai menuruni dataran terbuka penuh pasir bebatuan. Kami menutup hidung, mencegah bau belerang yang makin menusuk hidung dan paru-paru.
Di depan kelihatan Soe sedang termenung dengan gaya khasnya, duduk dengan lutut kaki terlipat ke dada dan tangan menopang dagu, di tubir kecil sungai kering. Tides dan Wiwiek turun duluan. Sempat pula kami berpapasan dengan Herman dan Idhan. Kelihatannya kedua teman itu akan menjadi yang paling akhir mendaki ke Mahameru.
Dengan tertawa kecil, Soe menitipkan batu dan daun cemara. Katanya, “Simpan dan berikan kepada kepada ‘kawan-kawan’ batu berasal dari tanah tertinggi di Jawa. Juga hadiahkan daun cemara dari puncak gunung tertinggi di Jawa ini pada cewek-cewek FSUI.” Begitu kira-kira kata-kata terakhirnya, sebelum bersama Maman saya turun ke perkemahan darurat dekat batas hutan pinus atau situs recopodo (arca purbakala kecil sekitar 400-an meter di bawah Puncak Mahameru).
Di perkemahan darurat yang cuma beratapkan dua lembar ponco (jas hujan tentara), bersama Tides, Wiwiek dan Maman, kami menunggu datangnya Herman, Freddy, Soe, dan Idhan. Hari makin sore, hujan mulai tipis dan lamat-lamat kelihatan beberapa puncak gunung lainnya. Namun secara berkala, letupan di Jonggringseloko tetap terdengar jelas.
Menjelang senja, tiba-tiba batu kecil berguguran. Freddy muncul sambil memerosotkan tubuhnya yang jangkung. “Soe dan Idhan kecelakaan!” katanya. Tak jelas apakah waktu itu Freddy bilang soal terkena uap racun, atau patah tulang. Mulai panik, kami berjalan tertatih-tatih ke arah puncak sambil meneriakkan nama Herman, Soe, dan Idhan berkali-kali.
Beberapa saat kemudian, Herman datang sambil mengempaskan diri ke tenda darurat. Dia melapor kepada Tides, kalau Soe dan Idhan sudah meninggal! Kami semua bingung, tak tahu harus berbuat apa, kecuali berharap semoga laporan Herman itu ngaco. Kami berharap semoga Soe dan Idhan cuma pingsan, besok pagi siuman lagi untuk berkumpul dan tertawa-tawa lagi, sambil mengisahkan pengalaman masing-masing.
Tides sebagai anggota tertua, segera mengatur rencana penyelamatan. Menjelang maghrib, Tides bersama Wiwiek segera turun gunung, menuju perkemahan pusat di tepian (danau) Ranu Pane, setelah membekali diri dengan dua bungkus mi kering, dua kerat coklat, sepotong kue kacang hijau, dan satu wadah air minum. Tides meminta kami menjaga kesehatan Maman yang masih shock, karena tergelincir dan jatuh berguling ke jurang kecil.
“Cek lagi keadaan Soe dan Idhan yang sebenarnya,” begitu ucap Tides sambil pamit di sore hari yang mulai gelap. Selanjutnya, kami berempat tidur sekenanya, sambil menahan rembesan udara berhawa dingin, serta tamparan angin yang nyaris membekukan sendi tulang.
Baru keesokan paginya, 17 Desember 1969, kami yakin kalau Soe dan Idhan sungguh sudah tiada, di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Kami jumpai jasad kedua kawan kami sudah kaku. Semalam suntuk mereka lelap berkasur pasir dan batu kecil G. Semeru. Badannya yang dingin, sudah semalaman rebah berselimut kabut malam dan halimun pagi. Mata Soe dan Idhan terkatup kencang serapat katupan bibir birunya. Kami semua diam dan sedih.
Mengapa naik gunung
Sejak dari Jakarta Soe sudah merencanakan akan memperingati hari ultahnya yang ke-27 di Puncak Mahameru. Malam sebelumnya, tanggal 15 Desember, dalam tenda sempit di tepi hutan Cemoro Kandang, Soe yang amat menguasai lirik dan falsafah lagu-lagu tertentu, meminta kami menyanyikan lagu spiritual negro, Nobody Knows, sampai berulang-ulang. Padahal irama lagu ini monoton sampai sudah membosankan kuping dan tenggorokan.
Idhan yang pendiam, cuma duduk tertawa-tawa, sambil mengaduk-aduk rebusan mi hangat campur telur dan kornet kalengan. Malam dingin dan hujan itu, kami bertujuh banyak bercerita, termasuk mendengarkan rencana Soe yang mau berultah di puncak gunung. “Pokoknya gue akan berulang tahun di atas,” katanya sambil mesam-mesem. “Nyanyi lagi dong. Lagu Donna Donna-nya Joan Baez itu bagus sekali.”
Pagi hari nahas itu, sebelum berkemas untuk persiapan pendakian ke puncak, kami sarapan berat. Soe yang biasanya cuma bercelana pendek, kini memakai celana panjang dengan sepatu bot baru. Bahkan dia mengenakan kemeja kaus warna kuning dengan simbol UI di kantung. “Keren enggak?” Tanyanya.
Rombongan pun berjalan mendaki, menuju Puncak Mahameru dari dataran di kaki G. Bajangan. Soe sebagaimana biasanya, selalu memanggul ransel besar dan berat, berjalan gesit sambil banyak cerita dan komentar. Ia mengisahkan bahwa di sekitar daerah itu pasti masih banyak harimau karena dia menemukan jejak kakinya. Dia juga menyebut kalau Cemoro Kandang berlumpur arang gara-gara kebakaran hutan pinus tahunan, sebagai pertanda seleksi alam dan proses regenerasi tanaman hutan.
Dosen sejarah ini terus nyerocos kepada mahasiswanya (saya), asal muasal nama recopodo alias arca kembar, serta mitologi Puncak Mahameru yang berkaitan dengan nasib Pandawa Lima dalam pewayangan Jawa. Namun sang mahasiswa juga membayangkan dengan geli, betapa kagetnya wakil DPR-RI saat itu ketika menerima bingkisan dari kelompok Soe berisi gincu dan cermin sebagai perlambang fungsi anggota DPR yang banci. Sayang, cuma segitu ingatan saya tentang Soe pada jam-jam terakhirnya.
Yang masih tetap terngiang justru rayuan dan “falsafahnya”, kala mengajak seseorang mendaki gunung. “Ngapain lama-lama tinggal di Jakarta. Mendingan naik gunung. Di gunung kita akan menguji diri dengan hidup sulit, jauh dari fasilitas enak-enak. Biasanya akan ketahuan, seseorang itu egois atau tidak. Juga dengan olahraga mendaki gunung, kita akan dekat dengan rakyat di pedalaman. Jadi selain fisik sehat, pertumbuhan jiwa juga sehat. Makanya yuk kita naik gunung. Ayo ke Semeru, sekali-kali menjadi orang tertinggi di P. Jawa. Masa cuma Soeharto saja orang tertinggi di P. Jawa ini,” kira-kira begitu katanya, sambil menyinggung nama mantan Presiden Soeharto, nun sekitar 30 tahun lalu.
Memang pendakian ke Semeru ini merupakan proyek kebanggaan Mapala FSUI 1969. Soe dengan keandalannya melobi kiri-kanan, mampu mengumpulkan dana untuk subsidi penuh beberapa rekan yang mahasiswa bokek sejati.
Singkat cerita, musibah sudah terjadi. Soe mungkin tidak membayangkan betapa kematiannya bersama Idhan Lubis bikin repot setengah mati banyak orang. Kami yang ditinggal dalam suasana tak menentu, selama sembilan hari benar-benar hidup tidak kejuntrungan. Selain puasa sampai tiga hari karena kehabisan makanan, kami makin sedih saat menerima surat dari Tides via kurir, menanyakan keadaan Soe dan Idhan.
Herman, kami sudah sampai di Gubuk Klakah hari Kamis pagi, sesudah jalan sepanjang malam (sekitar 20 jam). Pak Lurah menyanggupi tenaga bantuan 10 orang dan bekal. Mohon kabar bagaimana Soe, Idhan, dan Maman dll. secepatnya mendahului rombongan … Tides dan Wiwik 18-12-69.
Saya pun terpilih menjadi kurir, mendahului rombongan sambil membawa surat untuk Tides. Isinya apalagi kalau bukan minta bantuan tenaga dan bahan makanan. Herman pun menulis surat: Saya tunggu di Cemorokandang dan bermaksud menunjukkan “site” tempat jenazah Soe dan Idhan … kirimkan: gula/gula jawa, nasi, lauk, permen, pakaian hangat … sebanyak mungkin!
Akhirnya, semua bantuan tiba. Seluruh anggota rombongan baru berkumpul lagi pada tanggal 22 Desember di Malang. Kurus dan kelelahan. Maman terpaksa dirawat khusus beberapa hari di RS Claket. Sedangkan Soe dan Idhan, terbaring kesepian di dalam peti jenazah masing-masing.
Untuk terakhir kali, kami tengok Soe dan Idhan. Soe yang mati muda, terbujur kaku dengan kemeja tangan panjang putih lengkap dengan dasi hitam. Jenis barang yang tidak mungkin dipakai semasa hidupnya.
Monyet tua yang dikurung
Kalau diingat-ingat, selama beberapa minggu sebelum keberangkatan dengan kereta api ke Jatim, Soe memang suka berkata aneh-aneh. Beberapa kali dia mengisahkan kegundahannya tentang seorang kawan yang mati muda gara-gara ledakan petasan. Ternyata dalam buku hariannya di CSD, Hok Gie menulis: “… Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin ngobrol-ngobrol pamit sebelum ke Semeru ….”
Soe yang banyak membaca dan sering diejek dengan julukan “Cina Kecil”, memanfaatkan kebeningan ingatannya untuk menyitir kata-kata “sakti” filsuf asing. Antara lain, tanggal 22 Januari 1962, ia menulis: “Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”
Soe yang penyayang binatang (dia memelihara beberapa ekor anjing, banyak ikan hias dan seekor monyet tua jompo), sebelum musibah Semeru itu sempat berujar: “Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”
Arief Budiman, sang kakak yang menjemput jenazah Soe di Gubuk Klakah, juga merasakan sikap aneh adiknya. Sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan saya. Dia berkata, “Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang … makin lama makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi, apa sebenarnya yang saya lakukan … Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian.” (CSD) Arief sendiri mengungkapkan, ibu mereka sering gelisah dan berkata: “Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang.” Terhadap Ibu, dia cuma tersenyum dan berkata: “Ah, Mama tidak mengerti”.
Arief pun menulis kenangannya lagi: … di kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram karena voltase yang selalu naik turun kalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, sering kali masih terdengar suara mesin tik … dari kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik membuat karangan … saya terbangun dari lamunan … saya berdiri di samping peti matinya. Di dalam hati saya berbisik, “Gie kamu tidak sendirian”. Saya tak tahu apakah Hok Gie mendengar atau tidak apa yag saya katakan itu.
Mimpi seorang mahasiswa tua
John Maxwell yang menyusun disertasinya, Soe Hok Gie – A Biography of A Young Indonesia Intellectual (Australian National University, 1997), menjabarkan betapa banyaknya komentar penting terhadap kematian Hok Gie. Harian Indonesia Raya yang masa itu sedang gencar-gencarnya mengupas kasus korupsi Pertamina-nya Ibnu Sutowo, memuat tulisan moratorium tentang Soe secara serial selama tiga hari.
Mingguan Bandung Mahasiswa Indonesia, mempersembahkan editorial khusus: …Tanpa menuntut agar semua insan menjadi seorang Soe Hok-gie, kita hanya bisa berharap bahwa pemuda ini dapat menjadi model seorang pejuang tanpa pamrih … kita membutuhkan orang seperti dia, sebagai lonceng peringatan yang bisa menegur kita manakala kita melakukan kesalahan.
Di luar negeri, berita kematian Soe sempat diucapkan Duta Besar RI Soedjatmoko, di dalam pertemuan The Asia Society in New York, sebagai berikut: … Saya ingin menyampaikan penghormatan pada kenangan Soe Hok-gie, salah seorang intelektual yang paling dinamis dan menjanjikan dari generasi muda pasca kemerdekaan …. Komitmennya yang mutlak untuk modernisasi demokrasi, kejujurannya, kepercayaan dirinya yang teguh dalam perjuangan … bagi saya ia memberikan suatu ilustrasi tentang adanya kemungkinan suatu tipe baru orang Indonesia, yang benar-benar asli orang Indonesia. Saya pikir pesan inilah yang telah disampaikannya kepada kita, dalam hidupnya yang singkat itu.
Kepada Ben Anderson, pakar politik Indonesia yang juga kawan lengket Soe, dalam salah satu surat terakhirnya, Soe menulis, … Saya merasa semua yang tertulis dalam artikel-artikel saya adalah sejumput petasan. Dan semuanya ingin saya isi dengan bom!
Dari cuplikan berbagai tulisan Soe, terasa sekali sikap dan pandangannya yang khas. Misalnya, Soe pernah menulis begini: Saya mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama – buruh – dan pemuda, bangkit dan berkata – stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan atas nama apa pun. Tak ada rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, dan bangsa apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.
Khusus soal mahasiswa, menjelang lulus sebagai sejarawan, 13 Mei 1969, Soe sempat menulis artikel Mimpi-mimpi Terakhir Seorang Mahasiswa Tua. Dalam uraian tajam itu, ia menyatakan: … Beberapa bulan lagi saya akan pergi dari dunia mahasiswa. Saya meninggalkan dengan hati berat dan tidak tenang. Masih terlalu banyak kaum munafik yang berkuasa. Orang yang pura-pura suci dan mengatasnamakan Tuhan … Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa.
Saat dirinya masuk korps dosen FSUI, secara blak-blakan Soe mengungkap ada dosen yang membolos 50% dari jatah jam kuliahnya. Bahkan ada dosen menugaskan mahasiswa menerjemahkan buku. Terjemahan mahasiswa itu dipakainya sebagai bahan pengajaran, karena sang dosen ternyata tidak tahu berbahasa Inggris.
Masih di seputar mahasiswa, dalam nada getir, Soe menulis: … Hanya mereka yang berani menuntut haknya, pantas diberikan keadilan. Kalau mahasiswa Indonesia tidak berani menuntut haknya, biarlah mereka ditindas sampai akhir zaman oleh sementara dosen-dosen korup mereka.
Khusus untuk wakil mahasiswa yang duduk dalam DPR Gotong Royong, Hok Gie sengaja mengirimkan benda peranti dandan. Sebuah sindiran supaya wakil mahasiswa itu nanti bisa tampil manis di mata pemerintah. Padahal wakil mahasiswa itu teman-temannya sendiri yang dijuluki “politisi berkartu mahasiswa”. Langkah Soe ini membuat mereka terperangah. Sayangnya, momentum ini kandas. Soe Hok Gie keburu tewas tercekik gas beracun di Puncak Mahameru.
Berpolitik cuma sementara
John Maxwell dalam epilog naskah buku Mengenang Seorang Demonstran (November 1999), menulis begini, “Saya sadar telah menulis tentang seorang pemuda yang hidupnya berakhir tiba-tiba, dan terlalu dini dengan masa depan yang penuh dengan kemungkinan yang begitu luas.”
Kita telah memperhatikan bagaimana Soe Hok Gie terpana politik dan peristiwa nasional, setidak-tidaknya sejak masih remaja belasan tahun … namun hasratnya terhadap dunia politik, diredam oleh penilaiannya sendiri bahwa dunia politik itu pada dasarnya lumpur kotor. Semua orang seputar Soekarno dinilainya korup dan culas, sementara pimpinan partai dan politisi terkemuka, tidak lebih dari penjilat dan bermental “asal bapak senang”, serta “yes men”, atau sudah pasrah.
Pandangan ini menjadi latar belakang pembelaan Soe akan kekuatan moral dalam politik di awal tahun 1966. Keikutsertaannya dalam politik hanya untuk sementara. Pada pertengahan tahun yang sama, dia menyampaikan argumentasi bahwa sudah tiba saatnya bagi mahasiswa untuk mundur dari arena politik dan membiarkan politisi profesional bertugas, membangun kembali institusi politik bangsa.” Demikian tulis Maxwell.
Soe memang sudah bersikap. Dia memilih mendaki gunung daripada ikut-ikutan berpolitik praktis. Dia memilih bersikap independen dan kritis dengan semangat bebas. Pikiran dan kritiknya tertuang begitu produktif dalam pelbagai artikel di media cetak. Namun secara diam-diam, Soe ternyata juga menumpahkan unek-uneknya dalam bentuk puisi indah. Salah satunya Mandalawangi-Pangrango yang terkenal di kalangan pendaki gunung.
Pemuda lajang yang sempat pacaran dengan beberapa gadis manis FSUI, selain kutu buku, macan mimbar diskusi, kambing gunung, tukang nonton film, juga penggemar berat folksong (meski sama sekali tak becus bernyanyi merdu). Berbadan kurus nyaris kerempeng, di gunung makannya gembul.
Bagi pemuda dan khususnya mahasiswa demonstran, masih ada potongan puisi Hok Gie yang sempat tercecer, baru muncul di harian Sinar Harapan 18 Agustus 1973. Judulnya “Pesan” dan cukilan pentingnya berbunyi:
Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran
Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi
Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?

Dikutip dari: http://www.indomedia.com/Intisari/1999/desember/b2_hkgi.htm

Diposting oleh: Duljani – alumni 2001

sahabat

sahaBAt mengertI ketika kamu bilang
LUPA
menunggu Untuk Selamanya ketika kamu berkata TUNGGU SEBENTAR
tetaP tinGGal ketika KAmu bilang
TINGGALKAN AKU SENDIRI
MemBuka Pintu meski kamu BELUM MENGEtUK dan BerKata bOleHkah Aku Masuk???
perSahabataN itu….. seperti TAngan dengan mata… sAAt tangan terluka, mata meNAngIs… dan sAaT mata menanGiS tangaN menghapusnya..

posting oleh: Brother

dari Buletin Friendster kiriman Siti Anwary

senyum dulu dech…2

Kumpulan Anekdot dan Kisah-Kisah Unik Aktifis Dakwah

1. Bughot di demo Gus Dur

Pada pertengahan tahun 2001 yang lalu, Jakarta kembali dimarakkan oleh demo-demo anti Gus-Dur, baik di Gedung DPR, Bundaran HI maupun langsung ke Istana merdeka. Banyak elemen masyarakat dan mahasiswa yang bergabung untuk turun ke jalan dengan membawa berbagai nama. Dan semakin hari, aksi turun ke jalan ini semakin sering dengan jumlah yang kian hari kian meningkat. Fenomena seperti ini meresahkan sebagian kalangan Nadhliyin yang menganggap Gus Dur sebagai perwakilan dan lambang identitas dari NU. Yang terjadi kemudian adalah munculnya wacana bughot (istilah fikih untuk pemberontakan pada pemerintahan islam yang sah) dari sebagian ulama NU yang dituduhkan pada mereka yang melakukan aksi demo tersebut. Wacana yang disertai tuduhan ini pun berkembang dimana-mana, dari mulai siaran TV, media massa sampai diskusi pembahasan fikih. Oleh para ikhwan, yang memang paling aktif dalam melakukan demonstrasi ini, tuduhan tersebut dijawab dengan enteng dengan sebuah senyuman, ” memang kita akui, bahwa sebagian besar dari kami adalah benar-benar seorang bughot, ya.. Bujangan berjenggot ! “

2. Pedagang Asongan pun tahu

Masih tentang demo anti Gus Dur, maraknya tuduhan bughot pada para demonstran membuat banyak masyarakat bertanya-tanya, siapa sebenarnya dan darimana datangnya para demonstran yang kian hari kian banyak dengan berbagai nama organisasi baru, selain organisasi yang jelas dan sudah lama eksis seperti KAMMI dan BEM SI. Tapi kebingungan seperti ini tidak melanda para pedagang asongan di sekitar bundaran HI dan istana merdeka. Mereka dengan jelas tahu persis siapa dibalik demo-demo ini. Seorang wartawan mencoba bertanya pada salah satu dari mereka.

” Anda tahu siapa sebenarnya dan darimana datangnya para peserta demo ini ?”

” Jelas kami tahu, mereka adalah orang-orang semacam KAMMI dan yang sejenis
itulah pokokmya ..! “

“Tapi, darimana anda tahu ? “

” Jelas kali, setiap kali mereka demo kami selalu dilanda kerugian, karena tak satupun dari peserta demo yang membeli rokok dari kami, dan hal ini tidak pernah kami alami, selain di demo yang dilakukan orang-orang KAMMI dan sejenis itu .”

” Oooo.. pantesan ..”

3. Menentukan Hari Demo

Dalam situasi genting dengan perkembangan peta politik yang demikian cepat membuat setiap ikhwah harus siap siaga. Kapan pun dan dimanapun ada panggilan, mereka harus segera berangkat untuk ikut turun ke jalan, bahkan mungkin dengan persiapan seadanya. Ada cerita, seorang ikhwah semalaman sudah belajar karena ada ujian (kuis) esok harinya, tapi setelah subuh mendadak ada telpon panggilan demo. Akhirnya ujian pun ditinggalkan untuk menunaikan tugas tersebut. Inilah susahnya bagi para perancang demo, untuk menentukan jam dan hari demo yang tepat agar banyak peserta yang datang dan ikut Karena jika tidak, jumlah peserta yang sedikit akan melemahkan semangat peserta demo dan mengurangi kekuatan pressure mereka.

Ada satu keunikan bahwa di Jakarta demo paling sering dilakukan hari Jumat setelah Jumatan, biasanya kumpul di Al Azhar. Dan yang paling jarang bahkan tidak pernah dilakukan adalah pada hari Sabtu. Salah seorang penggerak demo ditanya masalah ini dan mengatakan, bahwa pernah dilaksanakan pada hari Sabtu, tapi ternyata pesertanya sangat sedikit sehingga menjadi kurang efektif. Ketika ditanya ada apa dengan hari sabtu, beliau menjawab,

” Hari sabtu itu hari liqo’ nasional, kebanyakan ikhwah kita jadwal ‘ngajinya’ hari Sabtu, jadi demo boleh jalan, tapi ngaji juga tetap jalan terus..jangan sampai terganggu demo..”

4. Lagu-Lagu Demo

Masih tentang demo. Demonstrasi yang dilakukan para ikhwah pertengahan 2001 yang lalu memang agak unik. Dengan alasan pertimbangan keamanan, dalam demonstrasi para ikhwah di larang memperlihatkan segala atribut ataupun ciri keikhwahan. bahkan dianjurkan untuk tampil unik, gaul ataupun sedikit preman. Maka jangan heran kalau banyak di temui sosok-sosok ustad yang berpakaian sporty dan gaul. Dan keunikan pun muncul pada lagu-lagu yang ditampilkan. Kalau biasanya adalah lagu-lagu demo penuh nuansa perjuangan, maka pada kali ini banyak dipakai lagu-lagu jahiliyah yang diplesetkan. Ada lagunya Zamrud, Sheila On Seven, lagu dangdut sampai lagu Doraemon pun ikut diplesetkan. Entah darimana mendadak ikhwah kita hafal dan fasih dalam melantunkan lagu-lagu seperti ini. Tetapi masalahnya tidak berhenti di sini. Karena di saat yang sama, sebagaimana diceritakan oleh salah seorang al akh, bahwa dia pernah menjumpai sebuah demo tandingan yang dilakukan oleh Forkot dan elemen kiri lainnya. Ternyata dalam demo tersebut, mereka melantunkan lagu-lagu dengan nada nasyid-nasyid perjuangan milik Izzatul Islam yang juga diplesetkan !

Benar-benar sebuah gambaran pertarungan yang menyeluruh, sampai lagu demo pun ikut saingan !

5. Sebab Ketegangan

Peristiwa 11 September 2001 membuat perhatian dunia tertuju pada Amerika dan Afghanistan. Serangan membabi buta yang dilakukan Amerika mengundang reaksi keras dari seluruh muslim sedunia. Sedikitnya ada 2 negara besar yaitu Pakistan dan Indonesia, yang penduduknya merespon dengan demonstrasi yang besar-besaran dan tidak henti-hentinya.Di Indonesia, demonstrasi dilakukan oleh hampir semua elemen muslimin seperti GPI, FPI, FIS dan tak ketinggalan juga para ikhwah. Suatu demonstrasi dilakukan oleh sebagian ikhwah yang tergabung dalam KAMMI pada sekitar awal Oktober di depan gedung DPR/MPR. Ketegangan pun terjadi karena tuntutan untuk masuk tidak digubris oleh pihak keamanan, yang boleh masuk hanya perwakilan, padahal tentu semua tahu bahwa gedung itu adalah milik rakyat sendiri. Maka sebagian ikhwahpun yang sudah lama tidak berolahraga pun tergerak untuk menakut-nakuti polisi dengan menggerak-gerakan pintu masuk. Situasipun semakin panas karena, polisi sabhara pun tak membiarkan mereka masuk. Maka dorong-mendorong sangat dasyhat pun tak terelakkan, dan ketegangan pun terjadi dalam waktu yang cukup lama, namun pintu tetap tak terbuka. Sebagian ikhwah pun terus mencoba berunding, bahwa mereka akan masuk untuk ambil wudhu dan sholat Ashar saja, karena waktu ashar sudah tiba. Permintaan seperti inipun tetap tak digubris, akhirnya dengan nada putus asa seorang ikhwah dengan logat betawi berseru lantang, ” Susah ..! polisinya kagak ‘ngaji’ sih, jadi kagak bakalan ngerti.coba kalo polisinya ikut ‘ngaji’ ..dari tadi pasti pintunya udah dibuka !” Sebagian ikhwah yang ikut mendengar tersenyum simpul dan membenarkan dalam hati.

6. KAMMI Ganti Nama

Setiap kali Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) berdemo dan melakukan long march, maka yang akan banyak terlihat adalah barisan putih panjang yang terdiri dari para ABG ( Akhwat Berjilbab Gede) , yang dikelilingi oleh sedikit ikhwan sebagai boarders. Dari sini jelas terlihat bagaimana perbandingan jumlah ikhwan dan akhwat yang terlampau mencolok. Dan repotnya hal seperti berlangsung terus di demo-demo yang lain. Yang akhirnya membikin ciri khas khusus bagi demonstrasi yang dilakukan KAMMI, yang seolah-olah menggambarkan bahwa KAMMI hanya milik para akhwat. Akhirnya muncul usulan dari para ikhwan untuk mengganti nama KAMMI menjadi KAMMMI, karena alasannya sesuai sejarahnya, pertama kali pada jatuhnya orde baru tahun 1966 ada yang namanya KAMI dengan satu huruf M, kemudian disusul pada bangkitnya orde reformasi muncul KAMMI dengan dua huruf M. Maka sesuai perkembangan terakhir sekarang dimunculkan KAMMMI dengan tiga huruf M yaitu Kesatuan Aksi Mahasiwa Muslim Muslimah Indonesia.

7. S-2 dan S-3

Maraknya dakwah di Ibukota sangat mengharukan hati. Di kampus-kampus umum, sekolah dan masjid-masjid perumahan sering diadakan kegiatan-kegiatan dakwah yang beraneka ragam. Dari mulai ceramah biasa, diskusi remaja, pemutaran film, bedah buku, bazaar sampai ke tabligh akbar, semuanya semakin menambah marak kesejukan suasana Ibukota yang sudah penuh sesak. Semua ini kemudian diikuti dengan bertambahnya kebutuhan akan juru dakwah. Tapi kita tidak perlu khawatir, karena banyak sekali aktivis dakwah kita yang masih muda, baru S-1 ataupun masih kuliah yang sudah mendapat gelar Phd dan MBA. Dan ini banyak kita temukan di kampus-kampus. Gelar Phd ini disematkan bagi mereka yang benar-benar ‘Pakar Halaqoh dan Dauroh’, sedangkan MBA untuk ‘Murobby Banyak Akal !’ Ini di bidang dakwah, kadang ada juga istilah lain yang dipakai untuk menyindir sampai dimana ‘proses’ seorang ikhwan, seperti MBA dari ‘Murobby Belum Acc’ , dan MBM dari ‘Murobby Baru Mencarikan’, atau kalau sudah selesai prosesnya bisa disebut MBM juga, yaitu ‘Married By Murobby.!’

Ada juga gelar yang sudah cukup masyhur di kalangan aktivis dakwah yang di peruntukkan bagi lulusan Timur Tengah ataupun LIPIA, yaitu Lc. Tapi gelar Lc ini ternyata sekarang banyak dipakai oleh para aktivis muda kita, tapi yang ini berarti ‘Langsung Ceramah’.Dan kabarnya pula Xanana Gusmao, Presiden Timor Lorosae juga punya gelar Lc juga, yaitu ‘Lulusan Cipinang’.

8. Berbeda tapi ternyata sama

Seorang Akhi di UNS mendadak harus pulang ke kota kecilnya di belahan utara pulau Jawa, karena ayahnya dikabarkan masuk rumahsakit. Sebuah fenomena memang kalau di sebuah kota kecil yang tidak ada kampus ternamanya biasanya tidak banyak memiliki stock ikhwan ataupun akhwat. Tapi di rumah sakit, tepatnya di bagian mushollanya, pada waktu itu dengan firasat ikhwannyanya al-akh ini berhasil menemukan seseorang yang ‘disangkanya’ seorang ikhwan pula. Tapi keraguan itu membuatnya bertanya dengan malu-malu, “Assalamualaikum wr wb, Langsung saja Mas.. antum Ikhwan khan ? “. Yang ditanya sempat kaget, lalu tersenyum dan memjawab, ” Apa? bakwan ! eh..ikhwan ? Maaf bukan mas, saya dulu di JT tapi sekarang saya mantep di HT, insya Allah , “. Dengan agak malu karena sok tahu, akh kita ini minta ijin untuk undur diri sambil menyalahkan firasat ikhwaniyahnya yang gagal kali ini. Tapi sebelum ia beranjak, orang tadi memanggilnya kembali,

” Afwan Akhi, saya dulu memang di JT tapi ini Jamaah Tarbiyah bukan Jamaah Tabligh lho..”

” Terus kenapa sekarang masuk HT ?”

” Iya, dari dulupun saya ikut HT, Halaqoh Tarbiyah ..!”

“Oooo..sama semua ya..ternyata”

9. Nama Lain Ngaji

Pada suatu malam Ahad, seorang Akhi yang baru memulai sejarah dakwahnya pamit pada temannya se kostnya untuk pergi ‘ngapel’ ke rumah seorang teman. Teman se-kost itu yang kebetulan juga seniornya sangat khawatir dengan aktivitas ‘anak baru’ tersebut. Kemudian dengan diam-diam ia mengikuti langkah sang Akhi tersebut, yang ternyata masuk ke dalam seorang rumah ustad. Dan setelah ditunggu sekitar dua jam, akhirnya sang Akhi tersebut keluar dengan wajah penuh keceriaan. Sang Senior yang sudah penasaran dari tadipun langsung menginterogasinya,

” katanya ngapel, kok di rumah ustad ? “

” Ya Mas, yang ini bukan ngapel pacaran, tapi ngapel singkatan dari ‘ngaji pelan-pelan’ alias liqo’ “.

Begitulah, sesuai dengan situasi dan kondisi di suatu tempat kadang-kadang digunakan bahasa lain untuk lebih menyamarkan atau mengakrabkan aktivitas yang satu ini. Kalau di lingkungan kampus biasanya dikenal istilah Mentoring atau Asistensi, Di Yayasan Iqro’ club yang menangani anak-anak STM di Jakarta menyebutnya dengan DSL (Dakwah Sistem Langsung), beberapa ikhwan lain menyebutnya dengan istilah ‘Les Privat’ ataupun ‘kencan mingguan’,dan ada juga yang bikin istilah keren yang sama dengan sebuah paket acara televisi di Indosiar yaitu KISS (Kisah tentang Selebritis), tapi KISS yang ini berarti Kajian Islam Seminggu Sekali, ada juga yang menyebutnya Kajian Islam Sabtu sore, Senin Sore, Selasa Sore, atau Sabtu Siang, dan seterusnya.

10. Simatupang dan Situmorang

Dua dari sepuluh karakteristik ideal seorang dai adalah ‘Qowiyyul Jismi’ dan ‘Harisun ala waqtihi’. Idealnya seorang yang beraktifitas di jalan dakwah memang harus mempunyai ciri tersebut. Tapi ada cerita unik, tentang dua orang ikhwan yang kebetulan tinggal satu kamar di sebuah rumah kost-kostan. Keduanya kuliah di kampus yang sama, jurusan yang sama, dan kebetulan sama-sama bergabung dalam LDK (Lembaga Dakwah Kampus ) yang ada di kampusnya. Tapi yang menjadikannya berbeda adalah dari segi jam terbang dakwahnya.

Sebut saja akhi A, beliau setiap hari hampir jarang ada di kamarnya. Berangkat pagi hari habis sholat Subuh, kemudian sore pulang sebentar untuk ngambil sesuatu dan mandi, kemudian pergi lagi dan pulang sampai larut malam, itupun tidak setiap hari beliau pulang. Belum lagi kalo pas hari libur atau sedang kosong , tiba-tiba ada panggilan dakwah, maka beliau langsung pergi lagi walaupun jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam. Itu cerita tentang si A. Lain lagi dengan temen sekamarnya si B, beliau paling sering kelihatan di rumahnya, atau lebih tepatnya di kamarnya, atau lebih pasnya lebih sering kelihatan tidurnya. Pagi berangkat kuliah sebagaimana biasa, dan siang pulang kemudian di rumah terus sampai esoknya lagi, kecuali satu hari saja untuk ‘aktivitas ngaji’ di rumah seorang ustad. Perbedaan yang sangat frontal ini konon mendapat perhatian yang cukup serius dari ikhwah lainnya yang tinggal sekontrakan dengan mereka berdua. Akhirnya, walaupun keduanya bukan dari tanah Batak, mereka sepakat memberi nama marga di belakang nama mereka yang satu Simatupang untuk akhi A, yang berarti ‘ Siang-malam tunggu panggilan’ karena aktivitas dakwahnya yang begitu padat. Sedangkan untuk si Akhi B diberi gelar Situmorang, yang berarti ‘ Si ikhwan tukang molor doang !”

11. JAMES BOND ala ikhwah

Sudah menjadi fenomena umum bagi seorang ikhwah mahasiswa yang kuliah di kota besar semacam Jakarta, bagaimana sulitnya mencari sebuah kamar kost yang layak pakai fasilitas lengkap, situasi mendukung untuk dakwah sekaligus nyaman untuk belajar, deket kampus, dan tentu saja yang paling murah, istilahnya ‘harga mahasiswa’. Maka beruntunglah, karena ternyata banyak masjid di Jakarta, yang juga deket dengan kampus yang menyediakan sebuah tempat khusus bagi satu dua mahasiswa untuk tinggal di situ sekaligus ikut berpartisipasi dalam memakmurkan masjid. Maka sebagian dari mereka ada yang menjadi petugas muadzin, ada pula yang menjadi imam tetap, ada pula yang mengajar TPA dan mengisi kajian Ibu-Ibu. Dan alhamdulillah, tidak jarang kemudian Takmir Masjid memberikan uang kompensasi bulanan sebagai pengganti waktu dan jerih payah mereka. Tapi meskipun demikian ada juga beberapa mahasiswa lain yang ikut membantu kebersihan masjid, dan berfungsi ganda sebagai petugas kebersihan masjid atau yang biasa dikenal dengan istilah marbot. Mereka – mereka yang disebutkan tadi, dengan bangga menyebut profesi ini dengan istilah ‘James Bond’, yang berarti ‘ Jaga Mesjid dan Kebon’ !

12. Nasyid (1)

Sore hari di sebuah rumah kost para ikhwah di bilangan Jurangmangu, Tangerang. Suasana yang ada diantara para ikhwah yang sedang bersantai sangat akrab, sampai tiba-tiba seorang akhi yang baru beberapa hari pindah ke situ, ikut meramaikan suasana dengan bernasyid dari kelompok Suara Persaudaraan, Malang. Beberapa bait nasyid disambut atau diikuti para ikhwah yang lain, namun ketika si Akhi ini sampai pada sebuah bait di sebuah lagu yang ada di album Balada sebuah Dangau , yang berbunyi.

” Kulihat Bunga di taman.

Indah warna-warni dan menawan..”

Mendadak seisi rumah pada ramai, sebagian senior ada yang memperingatkan langsung pada sang munsyid.

” Bernasyid boleh akhi, tapi jangan langsung menyebut nama seseorang dong. bisa timbul fitnah nantinya !”

Si anak baru sampai di sini masih belum menyadari kekeliurannya. Usut punya usut, ternyata di organisasi remaja Masjid dekat perumahan tersebut ada seorang akhwat aktivis yang namanya juga memang ” Bunga ” !

13. Nasyid ( 2 )

Plesetan dari lagu ” Aku Anak Sholeh ” nya Harmoni Voice, STT Telkom Bandung.

Aku Ingin Nikah

Dengan Mahar Mudah

Tidak susah- susah

Rukuh dan Sajadah

Istri Solihah..

Harta yang berkah..

Walau ku sudah nikah..

Tetap berdakwah..

14. Nasyid (3 )

Bait-bait Nasyid yang didendangkan oleh Munsyid Izzatul Islam mempunyai ciri khas perjuangan dan semangat yang menyala-menyala. Tapi bukan ikhwah namanya kalau tidak punya kreasi lain dengan lagu-lagu tersebut. Tentu saja tujuannya untuk memprovokasi satu sama lain. Lihat saja perbandingan lagu asli dan plesetannya di bawah ini, yang diambil dari album ” Kembali “

Berkobar tinggi panaskan bumi

Membakar ladang dan rumah kami

Darah syuhada mengalir suburkan negri

Tiada kata lagi. kami harus kembali

Berkobar tinggi panaskan hati

Datang tawaran dari murobby

Foto-foto akhwat ada dihadapan kami

Tiada kata lagi..aku pilih yang ini !

hudzaifah.org

Diposting oleh:

Duljani – alumni 2001

senyum dulu dech…

Taaruf Unik

[IMG]http://i283.photobucket.com/albums/kk298/brother_fillah/images2.jpg[/IMG]

Seorang ikhwan yang kuliah di semester akhir berazzam untuk menyempurnakan
separuh dien-nya. Sebagaimana biasa, beliau pun menghubungi ustadnya dan memulai
proses dari awal sampai akhirnya tiba saatnya untuk taaruf, yaitu dipertemukan
dengan calonnya. Tibalah hari dan jam yang telah ditentukan, dengan semangat
seorang aktivis, beliau datang tepat waktu di sebuah tempat yang telah di
janjikan ustad. Taaruf pun dimulai, sang akhi duduk disebelah murobby, sementara
agak jauh di depannya sang akhwat di temani murobbiyahnya dengan posisi duduk
menyamping menjauhi sudut pandangan si ikhwan. Setelah sekian lama berlalu tak
ada pembicaraan, sang murobby berbisik pelan pada mad’unya yang malu-malu ini,
“Gimana akhi, sudah lihat akhwatnya belum, sudah mantap apa belum ?”

“Sudah Ustad, saya mantap sekali ustad, akhwatnya yang sebelah kiri itu khan?”

Murobbynya kaget, wajahnya berubah agak kemerahan. ” Eh..gimana antum ! yang itu
istri saya !”

Belum Menikah

Memang susah jadi ikhwan bujangan, pasti banyak sindiran dan provokasi yang
datang setiap saat untuk segera menyempurnakan separuh dien ini. Apalagi jika ia
juga berprofesi sebagai seorang murobbi, maka setiap pertemuan mingguan pasti
ada sindiran-sindiran kecil dari para mad’unya yang rata-rata juga belum
menikah. Sebenarnya sang murobbi ini nggak enak dan takut juga kalau status
bujangannya ini menghalangi anak buahnya untuk segera menikah.

Akhirnya pada suatu kesempatan mingguan, setelah sekian lama para mad’unya
menanyakan masalah yang satu itu, sang murobbipun berpesan singkat di hadapan
para ikwah di hadapannya,

” Ikhwan sekalian, untuk masalah pernikahan.. jangan jadikan status ana sebagai
penghalang kalian menikah, cukup jadikan saja saya sebagai contoh atau tauladan
..! “

Para ikhwan yang mendengar pun terbengong-bengong keheranan.

Kriteria ( 1 )

Seorang Akhi muda yang baru lulus S-2 di luar negeri ditanya oleh ustadnya
mengenai kriteria akhwat yang diinginkannya. Maka dengan segala idealisme
sebagai seorang Ikhwan, mulailah ia mencari-cari kriteria dan menuliskan hampir
lebih dari sepuluh kriteria, kemudian menyerahkan pada ustadnya tersebut.
Kriterianya sangat bermacam-macam dan agak mengada-ada. Dari yang pertama dia
harus seorang akhwat, cantik, pendidikan tinggi, Suku Sunda, berkacamata, lulus
dengan cumlaude, hafal sekian juz. dan demikian seterusnya. Setelah diproses
oleh sang ustad, akhirnya ia diberitahu bahwa tidak ada akhwat yang bisa sesuai
dengan 10 syarat tesebut. Kemudian sang Ikhwan mengurangi kriterianya menjadi 9,
setelah diproses sekian minggu ternyata hasilnya nihil. Kemudian sang ikhwan
mengurangi satu lagi dari kriterianya menjadi delapan. Dan setelah ditunggu
sekian lama hasilnya tetap nihil karena terlau ideal kata ustadnya. Dan demikian
seterusnya setiap kali gagal sang
ikhwan mengurangi satu kriteria. Sampai setelah lewat lebih dari dua tahun sang
Ikhwan akhirnya menemukan pasangan hidupnya.Tapi itupun setelah kriterianya
tinggal satu!

Kriteria ( 2 )

Seorang Akhi ditanya sang Murobby tentang kriteria seorang akhwat yang
diinginkannya. Setelah beberapa saat berpikir, sang Akhi menjawab dengan
malu-malu,

“Yang pertama Ustad, dia harus seorang yang cukup cantik.”

“Astaghfirullah Akhi, bukannya Rasulullah menyuruh kita untuk mengutamakan
agamanya dulu ? “

“Yang itu sih bukan masalah ustad ? “

“Bukan masalah bagaimana akhi, ada hadist nya lho ..”

“Khan yang namanya akhwat pasti berjilbab gede, berarti semuanya kita anggap
sudah punya pemahaman agama yang cukup baik, sekarang tinggal kriteria
selanjutnya yaitu yang cantik “

” Antum bisa aja cari alasan !”

Kriteria (3)

Lagi-lagi seorang Ikhwah diinterogarsi oleh murobbinya tentang calon akhwat yang
diinginkannya. Ikhwan yang satu ini tampaknya sudah kena blacklist sama
murobbinya karena selalu menolak memberi kriteria ketika ditanya.

” Akhi, ini yang terakhir kalinya, kira-kira seperti apa akhwat yang antum
inginkan menjadi pendamping antum dalam berdakwah”

“Sudah deh ustad, ane nggak banyak minta, yang asal-asalan aja “

Sang Murobbi pun bengong dibuatnya, “Asal-asalan bagaimana maksud antum ?
Antum kan punya hak untuk mengajukan kriteria.”

“Maksud ane, asal sholihah, asal cantik, asal kaya, asal hafal Qur’an, asal
pintar, dan asal-asalan yang lainnya .”

“Pantes saja antum nggak nikah-nikah !”

Poligami

Seorang Akhi baru saja melangsungkan pernikahan dakwahnya dengan seorang akhwat
yang sama-sama berjiwa aktivis pula. Minggu-minggu awal pun dilalui dengan penuh
ceria, Qiyamul-lail berjamaah, baca Al-Ma’tsurat sama-sama, tabligh akbar
bersama bahkan sampai demo dan longmarch pun dilakukan sama-sama. Suatu ketika
setelah pulang dari suatu acara seminar bertemakan Poligami, pasangan ini
terlibat dalam pembicaraan serius,

“Bagaimana Mi, pendapat Ummi tentang poligami secara umum “

“Abi, secara umum poligami tidak ada nilai buruknya sebagaimana yang digemborkan
banyak orang, bahkan itu merupakan solusi satu-satunya lho.”

“solusi bagaimana maksud Ummi ?”

“Maksudnya, coba deh abi lihat, berapa perbandingan jumlah ikhwan dan akhwat, di
Jakarta aja lebih dari 1 : 7, kalau semuanya dapat satu-satu, maka bagaimana
nasib yang tiga lainnya? “

“Kalo Ummi sudah paham, bagaimana kalo kita yang memulai ?”

“Maksud Abi bagaimana ? “

“Abi mau poligami, tapi yang cariin calonnya ummi saja ya.”

“Apaa..! abi mau poligami ? “

“Ya dong, khan Ummi sendiri yang bilang tadi, ingat ini juga sunnah Nabi
Muhammad SAW lho..”

“Wah ! kalo begitu abi salah menafsirkan Siroh Nabawiyah, khan Rasul berpoligami
setelah istri pertamanya Kahdijah ra, meninggal.

Nah! Jadi abi boleh menikah poligami sampai empat pun boleh, asal setelah Ummi,
istri pertama Abi ini, meninggal, OK ?”

“Ini pasti Murobbiyah ya yang ngajari..?”

Sang istri tersenyum manja penuh kemenangan

Fatwa Menikah

Suatu sore di akhir Ramadhan, beberapa orang ikhwah tampak sedang bercengkrama
di teras masjid Baitul Hikmah, Cilandak sambil menunggu waktu berbuka puasa.
Mereka semua adalah para peserta I’tikaf Ramadhan yang datang dari tempat yang
berbeda-beda. Dan mereka kini terlibat pembicaraan serius tentang kegiatan
dakwah di kampusnya masing-masing. Beberapa saat kemudian datang seorang Ikhwah
dengan tergesa-gesa, membawa suatu kabar.

” Assalamualaikum wr wb, Ikhwan semua, antum sudah dengar belum ada fatwa
terbaru dari Dewan Syariah, baru keluar pagi tadi lho !”

Dengan serempak mereka menjawab,

” Waalaikum salam, fatwa terbaru tentang apa akhi ? “

” Tentang Menikah !”

” Menikah ? apa saja isi fatwa tersebut ? “

” Isinya cuma satu pasal tapi penting, bahwa mulai sekarang seorang Ikhwan tidak
boleh menikah dengan akhwat satu kampus.”

Semua ikhwah yang mendengar terkejut, dan saling memberi komentar satu sama yang
lain.

“Apa alasannya akhi, khan tidak melanggar syar’i ?”

“Kok bisa begitu, lalu bagaimana sama yang sudah berproses, langsung dibatalkan
ya ..”

“Ane kira ini untuk kepentingan perluasan dakwah juga ..”

“Kalau ane sih milih sami’na wa atho’na saja..”

Setelah beberapa saat terjadi tukar pendapat satu sama lain, akhirnya sang Akhi
yang datang bawa kabar tersebut dengan mimik serius menjelaskan,

“Tenang Akhi.., fatwa tersebut memang harus di dukung dan ada dalilnya kok,
bukankah Syariah Islam membatasi seorang Ikhwan untuk menikah hanya sampai
dengan empat orang akhwat, maka bagaimana mungkin seorang ikhwah mau menikah
dengan ‘akhwat satu kampus’ yang jumlahnya ratusan ..!”

Strategi Dakwah

Jalanan kota Jakarta siang itu, seperti biasa, macet. Bus P 4 jurusan BlokM -
Pulau Gadung penuh dengan penumpang.Bus itu penuh penumpang, sebagian
diantaranya berdiri menggantung lengan. Bus merambat pelan seolah masih
menyimpan banyak fasilitas tempat duduk yang kosong. Satu demi satu artis
jalanan mulai unjuk gigi. Menghias panas terik mentari dengan lagu-lagu
bertemakan sosial dan kemasyarakatan. Kadang di hiasai sindiran ala politikus,
tapi kadang dinodai oleh lirik-lirik sendu yang kurang pantas dilantunkan.

Ada yang aneh terlihat. Seorang bapak-seperti dari Madura- setengah baya memakai
batik, peci, dan sarung – khas pendatang baru- duduk di tepi jendela dengan
tenang. Tetapi yang membuat semua penumpang terheran, bapak itu asyik
menjulurkan tangannya ke luar jendela. Bukan sekali dua kali, tapi malah
terus-terusan tanpa beban. Sementara penumpang lain mulai berteriak memberi
peringatan.

“Pak, Hati-hati.. tangan bapak dimasukkan bisa patah kena mobil nanti .” seru
seorang ibu yang duduk di sebelahnya.

“Pak, kemarin ada peristiwa seperti itu. Tangan seorang kakek lepas saat
terjulur keluar dan tersangkut pohon di tepi jalan..hi..ngeri. ” seorang lainnya
ikut menakut-nakuti.

Pak Kondektur pun tak tinggal diam. Tampaknya kesabarannya sudah menipis, aksen
batak pun menambah ketegangan.

“Bah, ini orang tak tahu di untung, kalo tak lepas itu tangan, matilah kau.”

Tapi sang Bapak tak bergeming sedikitpun. Tangannya masih asyik terjulur dan
mengayun-ayun di luar jendela. Sorot matanya yang lugu pun terkesan percaya
diri. Seolah ia tahu apa yang dilakukan dan apa akibatnya. Sebenarnya apa yang
ada di benak Bapak tersebut ?

Seorang ikhwan yang bergelantung agak jauh dari bapak tersebut segera bereaksi.
Setelah mengamati gerak-gerik, sorot mata, dan mimik wajah tersebut, sang akhi
ikut memperingatkan sang Bapak. Tapi peringatan ini lain dari seruan-seruan
sebelumnya.

Dengan santun sang akhi berteriak ,

“Maaf Pak, kalau tangan bapak nggak di masukkan, nanti sayang lho kalo kena
pohon, bisa hancur dan rusak pohonnya. Apalagi kalo kena tiang listrik, wah
nanti tiangnya patah seluruh kota bisa padam listriknya Pak. Jadi saya usul
dimasukkin saja pak tangannya, biar nggak terjadi kerusakan nantinya…. “

Mendengar usulan sang akhi tersebut, sang Bapak tampak tersenyum. Ia paham betul
dengan peringatan tersebut. Nampaknya ia sepakat dengan sang akhi. Ia tidak
ingin pohon-pohon dan tiang itu rusak karena ulah tangannya. Makanya dengan
cepat ia tarik tangannya ke dalam bus kembali. Selesai persolan semua penumpang
menjadi lega. Sebagian lain tersenyum sambil berbisik-bisik menduga-duga.

“Oooo..ternyata Bapak ini dari tadi percaya diri karena yakin dengan kesaktian
tangannya tooo.. Alah-alaaaaaaaah. , untung tadi nggak jadi nabrak pohon”

Dalam berdakwah, kita juga harus tahu bahasa yang terbaik bagi setiap orang
tentu berbeda, sesuai dengan latar belakang objek dakwah masing-masing. Bukan
sekedar bahasa dakwah, tapi bahasa dakwah yang terbaik. Akh kita tadi, telah
memberi contoh yang sedemikian nyata. Bisakah anda bayangkan jika tangan sakti
sang Bapak terbentur sebuah pohon besar ?

Masih mau Sekolah

Seorang ikhwan yang baru saja menyelesaikan studi S1 nya menghubungi sang
Murobby. Apalagi kalau bukan untuk meminta sang ustad mencarikan jodoh terbaik
baginya. Tentu saja sang akhi ini tidak sekedar ingin menikah, tapi juga siap
menikah. Lho, apa bedanya ?.

Ingin menikah bagi seorang akhi cenderung bersifat objektif. Artinya ia
menginginkan atau menuntut seorang akhwat -yang akan menjadi istrinya nanti -
untuk tampil dengan performance dan sifat yang terbaik, menurutnya. Bisa jadi ia
ingin seorang akhwat yang harus cantik, tinggi, pintar masak, cerdas, penyabar
dan lain sebagainya. Atau bisa jadi ia menginginkan yang lebih spesifik misalnya
seorang dokter, dosen, hafidzah, atau mungkin yang berasal dari suku tertentu.
Lebih parah lagi jika ‘ingin menikah’ di sini berarti : ingin menikahi ukhti A,
B atau C. Yang jenis ini bukan berarti tidak boleh. Hanya saja, kurang elegan.

Lalu bagaimana dengan siap menikah? Siap menikah bagi seorang akhi berarti
kesiapan dari sisi subjektif dirinya. Artinya, ia akan mengukur kemampuan
dirinya untuk memimpin rumahtangga, tanpa banyak terpengaruh faktor siapa yang
akan mendampinginya. Dengan bahasa lain, dia punya kesimpulan : ” yang penting
ana harus siap dan baik dulu, siapapun istri ana dan bagaimanapun dia, toh ana
juga yang harus membimbingnya “. Yang jenis ini lebih elegan. Artinya siap
mental dalam menikah.

Nah kembali ke cerita sang akhi yang selain ingin, juga siap untuk menikah. Sang
murobby yang dikonfirmasi pun menyambut permintaan ini dengan semangat. Betapa
tidak? bukankah menjodohkan adalah sebuah amalan mulia. Apalagi yang dijodohkan
adalah ikhwan dan akhwat yang masing-masing mempunyai misi dan visi untuk
dakwah?

Maka dimulailah proyek perjodohan yang indah dan terjaga oleh sang Murobby. Dari
mulai tukar biodata sampai ta’aruf belum terlihat ada masalah. Namun ketika sang
murobby mengkonfirmasi kesediaan sang akhwat, ternyata sang akhwat menolak.
Entah sang akhwat punya alasan apa, yang jelas ia hanya bisa beralasan pada sang
murrobby :” Afwan ustad, saya masih mau melanjutkan sekolah dulu..”

Terpukul hati sang akhi mendengar jawaban sang akhwat. Pikirnya dalam hati,
mengapa kalau masih mau sekolah ia bersedia memberikan biodatanya dan bahkan
sampai proses taaruf ?

Sang murrobby pun merasakan hal yang sama. Ada apa gerangan di balik penolakan
ini ?.

Sang Akhi beritikad baik untuk tetap menikah. Sang murrobby pun kembali dengan
senang hati membantu sang akhi. Dilalui proses dari awal sebagaimana yang
pertama tadi. Namun sayang seribu sayang. Kasus penolakan yang pertama kembali
terulang. Masih dengan alasan yang sama : sang akhwat masih mau melanjutkan
sekolah.

Pusing kembali melanda sang akhi kita ini. Dicobanya sekian kali untuk
berinstropeksi: Adakah yang salah dalam biodatanya ? Atau ada kesalahan kah saat
taaruf kemarin ? Ah , rasa-rasanya semuanya begitu lancar, tak ada masalah.

Atau masalah penampilan fisik?. Ah, benarkah itu masih menjadi kriteria yang
prinsip di jaman ini? . Sang akhi bingung, ia benar-benar belum menemukan
jawaban yang tepat atas kasus penolakan dirinya.

Sang murroby tampaknya ikut merasa bertanggung jawab dengan penolakan tersebut.
Mungkin karena merasa kasihan dengan dua kali penolakan tersebut, sang murrobby
pun berinisiatif untuk ambil langkah yang lain. Kebetulan ia mempunyai adik
perempuan yang juga seorang akhwat. Maka setelah mengadakan briefing yang
intensif terhadap sang adik, dimulailah proses perjodohan keduanya. Biodata adik
sang murroby pun berpindah ke tangan sang akhi ini. Dengan seksama di baca semua
point di dalamnya. Tidak lupa dua lembar foto ukuran post card juga diperhatikan
agak lama.

Sang Murobby yang juga kakak sang akhwat terburu-buru untuk menanyakan kesediaan
sang akhi untuk meneruskan proses.

“Gimana akhi, antum bersedia melanjutkan proses ini kan? “

Sang akhi bingung bukan kepalang. Ada perasaan kurang sreg dalam dadanya.
Lebih-lebih saat melihat dua lembar foto sang akhwat. Diulang-ulang kembali,
sama saja. Ada rasa kurang berkenan yang muncul terus menerus dan mengganggu.

“Gimana Akhi, sudah siap untuk meneruskan prosesnya ? “

Pertanyaan sang murobby menambah kegalauannya. Keringat dingin mulai menetes
dari dahinya. Ia menunduk agak lama.

Sang akhi merenung sejenak, berinstropeksi. Sejurus kemudian ia mulai mengangkat
kepala. Tersenyum. Baru sekarang ia tahu alasan mengapa dua akhwat yang
terdahulu menolak dirinya: kriteria fisik !! Kriteria fisik , kedengarannya
memang lucu. Tapi ternyata ia selalu menjadi begitu kontemporer. Selalu saja ada
di mana saja dan kapan saja.

“Gimana akhi, bisa di jawab sekarang?? “

Dengan sedikit berdehem, sang akhi menjawab,

“Afwan Ustad, setelah saya pikir-pikir, nampaknya saya ” masih mau melanjutkan
sekolah ” saja ustad … “

Lemes tubuh sang murrobby. Namun ia pun tak bisa berbuat apa-apa. Dalam hati ia
berkata : Dasar aktifis jaman kini, masih teguh mempertahankan kriteria
fisik!!!. Andakah salah satunya? []

Larangan Merokok di Jepang – Kapan Indonesia??

Berita dari forum tetangga. Kalau beritanya benar, mudah-mudahan Indonesia bisa mengikuti

Tidak sembarangan orang bisa membeli rokok, setidaknya di Jepang. Negara “Matahari Terbit” ini punya cara mencegah anak-anak membeli rokok, salah satu yang diusulkan adalah menggunakan sistem pengenalan wajah. Mesin otomatis penjual rokok akan mengukur keriput, kerutan di pojok mata, dan kekendoran kulit untuk menilai apakah pembelinya sudah cukup umur.

Umur minimum untuk merokok di Jepang adalah 20 tahun dan hal ini dimanfaatkan sebuah perusahaan dengan mengembangkan sistem pengidentifikasi umur pembeli dengan cara mempelajari roman wajah.

Usaha itu dilakukan seiring akan disebarnya 570 ribu mesin penjual otomatis di seluruh Jepang. Undang-undang mensyaratkan mesin itu harus bisa menjamin bahwa pembelinya sudah cukup umur.

Pembeli diharuskan memandang ke suatu kamera digital yang terhubung dengan mesin tersebut. Sistem yang dibangun Fujitaka Co. akan membandingkan karakter roman wajah seperti keriput di sekeliling wajah, struktur tengkorak dan kekendoran kulit.

“Kami memiliki lebih dari 100 ribu data wajah orang,” kata jurubicara Fujitaka Co., Hajime Yamamoto, sebagaimana diberitakan Reuters. “Dengan sistem pengenalan wajah, asalkan punya uang kecil dan sudah cukup umur, anda bisa membeli rokok sebagaimana biasa. Taktik anak kecil meminjam kartu tanpa pengenal juga bisa diatasi.”

Kementerian keuangan Jepang telah memberi izin bagi “kartu pintar” yang dapat mengenali umur, atau “taspo”, selain memberi izin untuk suatu sistem yang dapat membaca umur dari kartu SIM.

Kementerian itu belum mengizinkan metode identifikasi wajah karena belum yakin terhadap akurasinya.

Yamamoto mengatakan sistem itu bisa mengenali 90 persen pembeli dengan benar, sisanya yang 10 persen masuk “wilayah abu-abu”, artinya, mereka adalah “anak-anak yang tampak dewasa atau orang dewasa berwajah kanak-kanak”. Mesin akan meminta mereka memasukkan kartu SIM, untuk memastikan usia calon pembeli yang tergolong “abu-abu”.(ant/rtr)

Posting:

Waridin alumni 2001

Lucu yang ironi

Lucu ya,

uang Rp 20,000an kelihatan begitu besar bila dibawa

ke kotak amal mesjid, tapi begitu kecil bila kita bawa

ke supermarket

Lucu ya,

45 menit terasa terlalu lama untuk berzikir,

tapi betapa pendeknya waktu itu untuk pertandingan

sepakbola

Lucu ya,

betapa lamanya 2 jam berada di Masjid, tapi betapa

cepatnya 2 jam berlalu saat menikmati pemutaran film

di bioskop

Lucu ya,

susah merangkai kata untuk dipanjatkan saat berdoa

atau sholat, tapi betapa mudahnya cari bahan

obrolan bila ketemu teman

Lucu ya,

betapa serunya perpanjangan waktu dipertandingan

bola favorit kita,

tapi betapa bosannya bila imam sholat Tarawih

bulan Ramadhan kelamaan bacaannya.

Lucu ya,

susah banget baca Al-Quran 1 juz saja, tapi novel

best-seller 100 halamanpun habis dilalap

Lucu ya,

orang-orang pada berebut paling depan untuk nonton

bola atau konser tapi berebut cari shaf paling

belakang bila Jumatan agar bisa cepat keluar

Lucu ya,

kita perlu undangan pengajian 3-4 minggu sebelumnya

agar bisa disiapkan di agenda kita,

tapi untuk acara lain jadwal kita gampang diubah

seketika

Lucu ya,

susahnya orang mengajak partisipasi untuk dakwah,

tapi mudahnya orang berpartisipasi menyebar gossip

Lucu ya,

kita begitu percaya pada yang dikatakan koran,

tapi kita sering mempertanyakan apa yang dikatakan

Al Quran dan sunnah

Lucu ya,

semua orang penginnya masuk surga tanpa harus beriman,

berpikir, berbicara ataupun melakukan apa-apa

Lucu ya,

kita bisa ngirim ribuan jokes lewat email,

tapi bila ngirim yang berkaitan dengan ibadah

sering mesti berpikir dua-kali

Anda ingin beramal Shaleh…?

Kirimkan kepada rekan-rekan muslim lainnya yang

anda kenal…

Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang

mu’min bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia

yang besar dari Allah.” (QS.33:47)

Ilmu yang dianggap remeh

Ilmu Yang Dianggap Remeh

Rabu, 21 Mei 2008 22:55:14

Hudzaifah – Ketika saya mendengarkan kata “ilmu” yang pertama kali terbesit dalam benak saya adalah buku. Karena buku memang salah satu sumber ilmu terbesar. Lewat buku kita bisa memperoleh ilmu yang sangat banyak dan pengetahuan yang sangat luas. Jika membayangkan kondisi saya sekitar tujuh tahun yang lalu, saya akan mendapati diri saya dalam keadaan tidak mengenal buku. Satu-satunya buku yang mampu menarik perhatian saya adalah komik. Tidak bisa terbilang sedikit komik yang saya miliki pada saat itu. Mungkin hampir memenuhi satu lemari khusus buku yang saya miliki.

Waktu itu saya berpikir bahwa buku hanyalah sarana untuk refreshing dan melepas kepenatan, jadi mengapa harus membaca buku-buku ilimiah yang berat dengan yang hanya akan menambah pikiran ini itu. Ketika masuk kuliah paradigma itu mulai bergeser sedikit demi sedikit namun tetap dalam satu koridor yang sama, “membaca untuk refreshing dan menenangkan pikiran”. Pada saat kuliah inilah saya mulai tertarik dengan buku biografi orang-orang terkenal. Saya berpendapat toh tidak jauh beda dengan buku cerita bukan? Hanya saja objek dalam buku ini real bukan fiksi seperti di komik.

Singkat cerita perlahan paradigma baru terbentuk meninggalkan paradigma lama dan koridornya juga lumayan bergeser dan bertambah dari sekedar untuk refreshing menjadi refreshing dalam artian yang lebih dalam. Banyak buku-buku Islam dan pergerakan yang saya lahap mulai dari Risalah Pergerakan 1 dan 2, Memoar Hasan Al Banna, Perangkat-Perangkat Tarbiyah, Manajemen Da’wah Kampus, dan berbagai macam buku-buku “aktivis” lainnya. Pada saat itu saya menganggap buku-buku tersebut sangat peting dalam mendukung pemahaman dan aktivitas saya sebagai aktivis da’wah kampus. Buku-buku tersebut menurut saya cukup membakar semangat dan melahirkan motivasi-motivasi baru dalam bergerak. Tak pelak bila ada buku-buku pergerakan dan Islam yang baru terbit langsung akan saya cari ke toko buku.

Tak terasa saya lebih menikmati buku-buku tersebut dibandingkan buku-buku ilmiah lainnya atau bahkan buku-buku kuliah sekalipun. Pandangan saya terhadap buku-buku ini sangat luar biasa. Sering bila mendapat kesempatan mengisi materi di suatu tempat saya menjadikan buku-buku tersebut sebagai rujukan utama.

Pada pertengahan tahun 2005 ada sebuah kejadian yang membuat mata saya terbuka. Pada saat itu keinginan saya untuk menuntut ilmu Islam sangat besar, maka dari itu saya ikut serta dalam kegiatan rutin di suatu ma’had. Di ma’had tersebut saya bertemu dengan seorang ustadz yang kegiatan dan aktifitasnya di dunia pergerakan dan Islam tidak diragukan lagi. Dia mengajar saya di salah satu kelas di ma’had tersebut. Sering kali diluar pelajaran pun kami sering berdiskusi.

Sampai pada suatu hari dia menguji pengetahun para muridnya dengan bertanya secara lisan. Beliau bertanya banyak hal mengenai hal-hal yang sangat dasar dan sebenarnya mudah untuk di jawab. Waktu itu beliau bertanya kepada saya mengenai rukun iman dan rukun Islam. Hasilnya sungguh mengejutkan jawaban saya ada yang terbolak-balik. Lalu dia bertanya tentang fiqh thaharah, dan ternyata jawaban saya tidak benar 100%. Dia juga bertanya tentang beberapa hadits yang seharusnya sangat mudah untuk dijawab. Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan tentang ilmu fiqh dan syariah yang dilontarkan kepada saya namun hanya beberapa yang bisa saya jawab secara sempurna. Padahal pertanyaan tersebut sering kita alami sehari-hari.

Setelah sesi kelas tersebut ustadz tersebut memanggil saya dan berkata dengan nada sedikit menegur. “Pengetahun antum tentang pergerakan sudah baik, namun antum lupa dasar dan penyokong dari ilmu-ilmu tersebut. Sebelum itu ada ilmu-ilmu yang sudah seharusnya dipelajari sebagai pondasi yang kuat untuk berda’wah. Antara lain adalah pengetahuan tentang ilmu fiqh, syariah, dan ilmu-ilmu lain yang berkaitan dengan akidah.”

Teguran ustadz tersebut masih jelas tergambar di benak saya sampai sekarang. Ternyata selama ini saya dan bahkan mungkin teman-teman semua hanya membaca dan berusaha menambah ilmu untuk menghiasi semangat dan ghiroh saja. Namun ternyata melupakan ilmu yang merupakan dasar dan pondasinya. Tanpa ilmu tentang akidah, syariah, dan fiqh, semua ilmu lainnya akan rapuh di dalam walau terlihat kuat dan kokoh dari luar. Ilmu yang dimiliki adalah merupakan cerminan kualitas diri. Tentu kita tidak mau dianggap kuat bersemangat dari tampilan namun rapuh di dalam bukan?

Mengutip sedikit perkataan Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Baari Syarah Shahih Bukhari 1/40. Beliau (Ibnu Hajar) berkata : “Ini (QS thaha : 114) dalil yang sangat jelas tentang keutamaan ilmu, karena Allah tidak pernah menyuruh Nabi-Nya Shalallahu’alaihi wasallam untuk meminta tambahan kecuali tambahan ilmu. Maksud ilmu tersebut adalah ilmu syar’i, yang berfaedah memberi pengetahuan apa yang wajib atas setiap mukallaf (muslim dan muslimah yang baligh) tentang perkara agama,ibadah dan muamalahnya. Ilmu mempelajari tentang Allah dan sifat-sifatnya dan apa yang wajib dia lakukan dari perintah-Nya serta mensucikannya dari sifat-sifatnya dan apa yang tercela. Poros dari semua itu adalah ilmu tafsir, ilmu Hadits dan ilmu Fiqh”.

Dari perkataan Ibnu Hajar tersebut bisa ditarik garis besar tentang pentingnya mempelajari Ilmu tafsir, ilmu hadits, dan ilmu fiqh. Dan bila ditarik benang merahnya Ilmu-ilmu tersebut adalah pondasi utama dari pengetahuan-pengetahuan tentang ilmu pergerakan dan sekitarnya.

Terakhir ada fenomena lain yang mendasari para aktivis da’wah hanya cenderung mempelajari buku-buku pergerakan. Yaitu ingin berkiprah dan dianggap tau benar tentang dunia pergerakan. Ingin terlihat sebagai aktifis tulen namun akhirnya hanya terpakai untuk hiasan luar belaka. Na’udzubillahi mindzalik. Dari fenomena ini bisa dilihat ternyata menuntut ilmu sangat mungkin sekali dihiasi dengan bumbu-bumbu riya yang terjangkit dalam hati. Coba lihat lagi ke dalam relung hati kita, apa motivasi kita berda’wah hari ini. Sudahkah ilmu-ilmu yang utama kita pelajari hari ini? Wallohu’alam bishowab.

diposting oleh:

Waridin alumni 2001

Kala Pena Setajam Pedang

Kala Pena Setajam Pedang


Kiprah penulis muslim makin bergelora. Saatnya bikin sesuatu yang beda dan bernilai dakwah. Karena menulis buat seorang muslim adalah ladang dakwah dan ibadah. Yang namanya pendekar, biasanya punya senjata sakti. Wiro Sableng punya kapak maut Naga Geni 212, Thio Bu Khie di cersil To Liong To-nya Chin Yun punya Pedang Langit & Golok Pembunuh Naga, King Arthur punya Excalibur. Semua sakti mandraguna bisa menghabisi lawan-lawannya.
Tapi, kesaktian senjata itu paling banter cuma bisa ngebunuh puluhan atau ratusan orang. Sementara, goresan pena seorang penulis bisa mengguncangkan jutaan orang. Bahkan lebih. Maka, pena itu emang setajam pedang, atau malah lebih tajam lagi. Begitu tajamnya, sampai-sampai Kaisar Prancis yang masyhur, Napoleon Bonaparte lebih ngeri pada pena para penulis ketimbang ribuan bayonet musuh yang terhunus.
Kesaktian para penulis
Sobat, kita bukannya lagi ngebual. Ini fakta. Ambillah contoh, kalangan Kristiani akhir-akhir ini lagi resah setelah terbitnya sebuah novel berjudul The Da Vinci Code. Tulisan fiksi garapan penulis muda Dan Brown ini ditakutkan mengguncangkan ?keimanan? kalangan umat Kristiani. Pasalnya, dalam buku fiksi itu Dan Brown menuliskan kalau sebenarnya Yesus Kristus berstatus menikah dengan seorang wanita yang bernama Maria Magdalena. Mereka, tulis Brown, juga punya keturunan yang sampai sekarang tinggal di satu kawasan di Prancis.
Tulisan ini jelas bikin geger. Pasalnya kalangan Kristen percaya betul Yesus itu tidak pernah menikah. Dan lagi, kalau kamu tahu, dalam sejarah Kristen, Maria Magdalena itu adalah seorang pelacur. Jelas aja banyak pastor yang tersinggung. Tapi ada daya, buku itu malah jadi best seller di AS dan Eropa.
Sekarang kita flashback, liat ke masa lampau. Tepatnya di tahun 1896 keluar sebuah buku berbahasa Jerman dengan titel Der Judenstaat. Pengarangnya adalah Theodore Hertzl. Buku inilah yang jadi inspirasi jutaan orang Yahudi di dunia untuk bikin sebuah negara rasis; Yahudi Raya, atau kita kenal dengan Israel. Bayangin, sebuah buku bisa melahirkan revolusi sekaligus sebuah negara.
Wah, masih banyak karya-karya para penulis yang spektakuler; positif ataupun negatif. Goresan pena mereka, atau ketikan mereka, bisa membangkitkan emosi masyarakat. Bahkan ada yang bisa melahirkan sebuah pergolakan sosial dan politik seperti Dar Judenstaat-nya Herzl dan Das Kapital-nya Karl Marx.
Dakwah lewat pena
Tapi, kita juga patut bersyukur kemudian banyak lahir para penulis muslim. Dari luar negeri, siapa sih yang luput baca bukunya asy-Syahid Sayyid Quthb yang beken dengan Ma?alim fi ath Thariq dan tafsir Fi Dzilaalil Qur?an. Buku tafsir yang dibuat dalam penjara rezim Mesir ini dinilai banyak ulama sarat dengan muatan dakwah dan perlawanan terhadap kezaliman kaum imperialis dan antek-anteknya.
Di dalam negeri? remaja muslim juga ngeh banget dengan nama Helvi Tiana Rossa, Pipiet Senja, Gola Gong, Boim Lebon, Afifah Afra Amatullah, Adian Husani, Faudzil Adhim, Oleh Solihin, dsb. Nama-nama itu udah jadi ikon penulis muslim. Tulisan mereka, insya Allah, nggak sekadar menghibur, tapi juga berisi muatan dakwah. Ajakan untuk meniti jalan menuju kehidupan yang Islami.
Lagipula, dakwah lewat tulisan ini punya beberapa keunggulan dibandingkan via lisan. Dengan tulisan pastinya materi dakwah akan terdokumentasikan dengan baik. Biarpun ada tape recorder, atau rekaman video, tetep aja nggak bisa mengalahkan asyiknya menelusuri ide dakwah lewat tulisan. Membaca emang kagak ada matinya!
Buat pembaca sendiri ada keuntungan lain. Mereka bisa menyimak dakwah itu kapan saja dan dimana saja. Bisa sambil santai, tiduran di bawah pohon kelapa, awas aja ketiban buahnya. Pokoknya, enak dinikmati sambil apa aja.
Selain itu, dakwah lewat tulisan bisa jauh lebih mendalam. Karena penulisnya bisa mengeksplor berbagai buku-buku rujukan. Penulisnya bisa berpikir panjang sebelum menuangkan gagasan. Beda kan dengan dakwah secara lisan, apalagi yang modelnya live show, seorang da?i dituntut bisa berpikir cepat dan tepat. Jelas ini berat karena nggak semua da?i bisa melakukan hal itu.
Ada tanggung jawab
Karenanya, jadi penulis jangan lagi diliat sebagai hobi. Iseng ngisi waktu luang. But, nulis itu udah jadi bagian dari perjuangan umat. Tulisan-tulisan mereka bertaburan muatan dakwah menuju kehidupan Islam. Ide-ide mereka nggak cuma ngasih penjelasan tentang Islam, tapi juga bisa mukul balik aneka gagasan gila alias yang membahayakan umat Islam.
So, jadi penulis muslim, nggak cuma dituntut kreatif, tapi juga bertanggung jawab atas karya yang mereka buat. Penulis muslim itu kudu bisa menulis dengan benar dan baik. Benar, artinya menuliskan hal-hal yang islami, nggak bikin pembaca jadi bodo apalagi ?gila?, seperti mencaci maki Al Qur?an, para sahabat, dan agama Islam pada umumnya.
Yang dimaksud ?baik? adalah bisa nulis dengan kreatif. Maksudnya bukan kudu nulis sambil nyelam di air, sambil nungging, sambil merem, atau gimana gitu. Tapi bisa bikin tulisan yang memikat, enak dibaca dan perlu (afwan, TEMPO!).
Nah, modal jadi penulis itu emang gampang-gampang susah. Gampang karena setiap orang pastinya bisa nulis. Susahnya, dia kudu punya teknik menulis yang oke banget, dan pastinya nguasai tsaqofah islamiyah (pengetahuan keislaman).
Insya Allah, tanah air bakal terus kebanjiran penulis muslim yang berbakat. Semoga talenta mereka betul-betul bermanfaat untuk kebangkitan Islam. Kita menunggu perubahan masyarakat agar agama ini tegak di atas muka bumi. Kalau Rusia bisa berevolusi dengan Das Kapital-nya Karl Marx, atau kaum Yahudi bisa mendirikan negara Yahudi Raya lewat Dar Judenstaat, umat Islam pasti juga bisa. Nah, semoga para penulis muslim bisa mewujudkannya.

oleh: Tuti AN

alumni 2001